Sabtu, 10 September 2011

“Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Kerja Aparat Di Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo”,

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pembangunan suatu Negara bersifat kompleks dan multidimensional, sehingga setiap bangsa dan Negara memerlukan perencanaan pembangunan yang efektif dan efisien sesuai dengan kondisi bangsa, Negara, dan masyarakat. Kedudukan aparatur pemerintah dalam pembangunan nasional pada lingkup pemerintahan pusat maupun daerah yang merupakan ujung tombak pembangunan nasional dimana lebih dekat dan langsung berhubungan dengan partisipasi masyarakat, tentunya semakin strategis kedudukannya. Adapun yang turut mempengaruhi efektifnya penyelenggaraan pemerintahan dari tingkat pusat sampai tingkat daerah dan kecamatan menuntut kinerja dari aparatur yang turut terlibat di dalam penyelenggaraan pemerintahan tersebut.
Sejalan dengan kebijakan otonomi daerah dalam Undang-undang Nomor 12 tahun 2008, sebagai perwujudan revisi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah, mengamanatkan bahwa penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan diarahkan pada upaya mendorong pemberdayaan serta meningkatkan peran serta masyarakat terutama dalam penegakan demokrasi, penyelanggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan.
Kecamatan Batudaa Pantai sebagai salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Gorontalo merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam program pembangunan adalah peningkatan kualitas sumber daya serta peningkatan kinerja aparat pemerintah yang di implementasikan dalam bentuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan tugas pemerintahan. Dalam hal ini adalah kinerja para aparat yang ada pada beberapa dinas dan instansi dilingkungan pemerintah Kabupaten Gorontalo, termasuk didalamnya aparatur pemerintah Kecamatan.
Kinerja aparat dalam suatu instansi sangat mempengaruhi adanya tujuan dari organisasi, mulai dari pengelolaan sampai pada tujuan yang ingin dicapai, itu semua tergantung dari pelaksanaan yang ada dalam instansi tersebut. Untuk itu aparat dituntut agar bertanggung jawab dalam berbagai usaha yang dilakukan oleh organisasi demi mencapai keberhasilan suatu organisasi.
Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur Negara, abdi Negara, dan abdi masyarakat yang penuh kesetiaan dan ketaatan kepada pancasila, Undang-undang Dasar 45, Negara dan pemerintah serta bersatu padu, bermental baik, berwibawa, berdaya guna, bersih bermutu baik dan sadar akan tanggung jawabnya untuk menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan.
Efektivitas aparat yang baik mencerminkan rasa tanggung jawab dalam menyelenggarakan tugas yang diberikan.
Demikian halnya, efektivitas yang baik, tentunya mendorong gairah kerja, semangat kerja, dan terwujudnya tujuan instansi, serta aparat dan masyarakat.
Selain itu pula, efektivitas yang diartikan sebagai keberhasilan melakukan suatu pekerjaan, dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tentunya dapat menentukan efektivitas kerja aparat berhasil dilakukan dengan baik atau tidak. Tugas bawahan dapat berjalan dengan baik apabila dilakukan pemberitahuan (komunikasi) tentang pendelegasian tugas dan tanggung jawab, motivasi serta adanya evaluasi kerja dari pimpinan.
Kantor Camat Batudaa Pantai sebagai instansi pemerintah yang merupakan bagian unit kerja dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan didaerah, tentunya memerlukan aparat yang bisa mewujudkan tujuan organisasi dan menjalankan tugas dan pekerjaannya.
Dengan demikian output dari pelaksanaan tugas aparat adalah berupa jasa pelayanan kepada masyarakat sehingga pelayanan dikatakan efektif, apabila aparat berhasil dalam melaksanakan tugasnya.
Sejalan dengan hal tersebut diatas, aparat kecamatan, sebagai birokrat di tingkat kecamatan dituntut untuk mampu menangani kendala-kendala yang dihadapi dalam usaha-usaha pembangunan yang digalakkan pemerintah. Aparat Kecamatan harus mampu melaksanakan fungsi utamanya yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik, cekatan, efektif dan efisien.
Pada fakta yang ada, efektivitas kerja aparat dalam penyelenggaraan pemerintahan di Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo sampai saat ini masih dirasakan kurang efektif, hal ini diindikasikan dengan pelayanan pengurusan surat-surat kepada masyarakat seperti surat keterangan jual beli, surat rekomendasi perkawinan, surat keterangan tidak mampu, surat pernyataan hak atas tanah, serta surat pernyataan penyerahan atas tanah yang tidak optimal dikarenakan oleh masih kurangnya pemahaman aparat akan uraian pekerjaan masing-masing, lingkungan kerja, sarana dan prasarana yang kurang memadai, disiplin pegawai, motivasi kerja, serta masih kurangnya pengawasan serta evaluasi kerja oleh pimpinan sehingga dapat mempengaruhi kelancaran pegawai dalam menyelenggarakan kegiatan dibidang Pemerintahan, Pembangunan dan Pelayanan Kemasyarakatan.
Berdasarkan uraian pokok pikiran tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan kajian mendalam melalui penelitian ilmiah dengan judul; “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Kerja Aparat Di Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo”,




Identifikasi Masalah
Masalah yang teridentifikasi adalah efektivitas kerja aparat dalam penyelenggaraan pemerintahan di Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo sampai saat ini masih dirasakan kurang, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang antara lain adalah;
Masih kurangnya pemahaman aparat akan job description berdasarkan struktur organisasi yang telah disusun.
Lingkungan kerja serta sarana dan prasarana yang kurang memadai, sehingga dapat mempengaruhi kelancaran aparat dalam bekerja.
Masih kurangnya rasa keterikatan akan pekerjaan, serta masih kurangnya motivasi kerja, guna peningkatan prestasi kerja
Masih kurangnya kebijakan dan praktek manajemen yang dapat berupa pengawasan serta evaluasi kerja sebagai alat oleh pimpinan guna mencapai tujuan organisasi.

Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang dan Identifikasi masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu;
“Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi efektivitas kerja aparat di Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo”,


Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang mempengaruhi efektivitas kerja aparat di Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut;
Teoritis ; Sebagai bahan kajian untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya terhadap ilmu administrasi Negara.
Praktis : Sebagai bahan masukan dan informasi bagi aparatur pemerintahan khususnya aparat di Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo dalam meningkatkan efektifitas kerja.







BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Efektivitas
Salah satu ciri manusia modern adalah keanggotaannya dalam berbagai organisasi yang kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan pribadinya, baik dalam arti peningkatan taraf hidupnya dibidang materil maupun kesejahteraannya dibidang mental spiritualnya. Sebagai anggota organisasi, maka setiap individu (aparat) dituntut untuk menyesuaikan diri dengan organisasi tersebut.
Konsekwensi dari penyesuaian diri dengan lingkungan organisasi mengakibatkan setiap individu (aparat) berusaha melaksanakan kewajibannya sebaik mungkin dalam rangka pencapaian tujuan. Hal yang sangat penting dan berhubungan dengan pencapaian tujuan yaitu masalah efektivitas kerja dari aparat (anggota organisasi) yang bersangkutan.
Konsep efektivitas sesungguhnya merupakan suatu konsep yang luas, mencakup berbagai faktor didalam maupun diluar organisasi. Konsep efektivitas ini oleh para ahli belum ada keseragaman pandangan, dan hal tersebut dikarenakan sudut pandang yang dilakukan dengan pendekatan disiplin ilmu yang berbeda, sehingga melahirkan konsep yang berbeda pula didalam pengukurannya. Namun demikian, banyak juga ahli dan peneliti yang telah mengungkapkan apa dan bagaimana mengukur efektivitas itu.
Konsep efektivitas berkenaan dengan tingkat / derajat pencapaian tugas dan misi dalam organisasi. Dalam pengertian itu tercakup hasil yang dapat diukur dan yang tidak dapat diukur secara matematika, misalnya kepuasan pelayanan.
Dengan kata lain, efektivitas berkenaan dengan tingkat atau keberhasilan sebuah organisasi dalam mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Tingkat keberhasilan sebuah organisasi dapat diklasifikasikan sebagai kurang efektif, cukup efektif, efektif, dan sangat efektif.
Aparat Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo, dalam melaksanakan tugasnya dituntut untuk bekerja seefektif mungkin. Menurut Liang Gie dkk, (1982;108) efektivitas diartikan sebagai berikut;
Suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikendaki. Kalau seseorang melakukan suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendakinya maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan akibat atau mempunyai maksud sebaimana dikehendaki.

Menurut Handayaningrat (1986;38) Efektifitas adalah kemampuan seseorang atau kelompok yang sedang melakukan sesuatu untuk melahirkan hasil dari pekerjaan itu. Selanjutnya Manulang (1989 ; 6) mengemukakan bahwa efektifitas adalah suatu ukuran yang dapat memberikan gambaran seberapa jauh target yang tercapai, baik secara kualitas maupun waktu.
Sementara itu Wahdjosumidja (1994;31) memberikan penjelasannya mengenai efektifitas yaitu dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan organisasi mencapai tujuan sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Oleh sebab itu efektifitas sebagai subsistem manajemen personalia yang mengandung arti keberhasilan personil dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya yang mampu menggerakan sumber daya manusia baik secara perorangan maupun secara kelompok dalam mencapai tujuan organisasi.
Natawijaya (dalam Anoraga 1995; 55) mengemukakan bahwa efektifitas adalah keadaan dimana kemampuan berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia untuk memberikan guna yang diharapkan. Hal senada yang dikemukakan oleh Etzoni (1997;55) Efektifitas adalah tingkat keberhasilan organisasi untuk mencai tujuan dan sasaran.
Selain itu, Mustafa (2007; 3), mengemukakan bahwa;
Efisien ialah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar.
Efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Apabila efektivitas ini dihubungkan dengan kerja manusia (pegawai), maka Liang Gie, dkk (1982; 108) mengemukakan sebagai berikut;
Efektivitas kerja manusia adalah keadaan atau kemampuan berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia untuk memberikan guna yang diharapkan.

Dalam psikologi industri, untuk menilai apakah tercapainya efektivitas kerja pada umumnya dipakai 4 pertimbangan yaitu;
Pertimbangan-pertimbangan ekonomi, misalnya mengenai pembayaran gaji serta tunjangan bagi para karyawan,
Pertimbangan-pertimbangan fisiologi misalnya akibat kerja terhadap kesehatan atau banyaknya kecelakaan-kecelakaan jasmani,
Pertimbangan-pertimbangan psikologi misalnya pengaruh kerja terhadap rasa letih, kesenadaan atau kepuasan karyawan terhadap kerja itu,
Pertimbangan-pertimbangan sosial misalnya kedudukan dalam masyarakat atau kebahagiaan dan penyesuaian diri dalam kehidupan keluarga.

Lebih lanjut dikatakan apabila suatu kerja menimbulkan gangguan pada bidang yang dijadikan bahan pertimbangan itu, misalnya seorang pejabat walaupun gajinya sangat besar dan kedudukannya tinggi tapi apabila terus menerus bertugas keluar kota sehingga kehidupan keluarganya tidak bahagia maka dapat dikatakan tidak tercapainya efektivitas kerja.


Menurut Rury (2009; 30), tercantum beberapa pengertian efektivitas yakni;
Efektivitas kerja adalah kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat dan peralatan-peralatan untuk pencapaian yang telah ditetapkan.
Efektivitas adalah hasil membuat keputusan untuk menunjukkan pengarahan tenaga kerja bawahan atau disebut juga manajemen efektifitas kepemimpinan, yang membantu memenuhi misi suatu perusahaan atau pencapaian tujuan.
Efektivitas pula merupakan keadaan dan kemampuan berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia untuk memberikan guna yang diharapkan. Untuk melihat efektivitas kerja pada umumnya dipakai empat macam pertimbangan yakni pertimbangan ekonomi, fisiologi, psikologi serta pertimbangan sosial.”
Sedangkan menurut pendapat Gibson (1984;28) mengemukakan bahwa “Efektivitas adalah konteks perilaku organisasi merupakan hubungan antar produksi, kualitas, efisiensi, fleksibilitas, kepuasan, sifat keunggulan dan pengembangan .”
Selain itu pula, efektivitas yang diartikan sebagai keberhasilan melakukan program dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor yang dapat menentukan efektivitas kerja pegawai berhasil dilakukan dengan baik atau tidak dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat diketahui bahwa efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat penting karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasarannya atau dapat dikatakan bahwa efektivitas merupakan tingkat ketercapaian tujuan dari aktivasi-aktivasi yang telah dilaksanakan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pandangan Mengenai Efektivitas
Pada dasarnya ada tiga pandangan yang menunjukkan pada tingkatan efektivitas kerja seperti yang dikemukakan oleh Gibson Ivncevich Donnely (dalam Wahid, 1986; 25 ) sebagai berikut:
Tingkat yang paling dasar terletak pada efektivitas individu
Efektivitas kelompok
Efektivitas organisasi.

Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut;
Efektivitas Individu;
Pandangan dari segi individu menekankan hasil karya karyawan / pegawai atau anggota tertentu dari organisasi. Tugas yang harus dilaksanakan biasanya ditetapkan sebagai bagian dari pekerjaan atau posisi dalam organisasi. Prestasi kerja individu dinilai secara rutin lewat kenaikan gaji, promosi dan imbalan lain yang tersedia didalam organisasi.
Efektivitas Kelompok;
Jarang sekali individu bekerja sendirian atau terpisah dari orang-orang lain didalam organisasi. Dalam kenyataannya individu biasanya bekerja bersama-sama dengan kelompok kerja, jadi pandangan kedua ini menitik beratkan pada masalah dari segi efektivitas kelompok. Dalam beberapa hal efektivitas kelompok adalah jumlah kontribusi dari semua anggotanya. Misalnya, bagi kelompok ilmuan yang mengerjakan proyek-proyek individual, yang tidak saling berhubungan maka besarnya efektivitas dari tiap-tiap individu. Dalam beberapa hal lain, efektivitas kelompok adalah besar dari jumlah kontribusi tiap-tiap individu. Contoh semacam ini adalah lini perakitan yang menghasilkan produk jadi sebagai hasil sumbangan khusus tetapi komulatif dari kontribusi tiap-tiap individu.
Efektivitas Organisasi;
Organisasi terdiri dari individu dan kelompok, karena itu efektivitas organisasi terdiri dari efektivitas individu dan kelompok. Serta efektivitas organisasi dapat dinyatakan pula sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuan atau sasaran.

Pengertian Kerja
Kerja merupakan aktivitas dasar dan aktivitas sosial dari kehidupan manusia. Kerja memberikan kesenangan bagi yang suka bekerja dan arti tersendiri dalam kehidupan. Karena kerja memberikan status sosial pada seseorang dan bisa memenuhi apa yang diinginkan seseorang.
Menurut Hasibuan (2002; 50) “kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan mental yang dilakukan seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan”. Demikian pula, Hasibuan (2010; 94) mengemukakan bahwa “Kerja adalah pengorbanan jasa, jasmani, dan pikiran untuk menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa dengan memperoleh imbalan prestasi tertentu”.
Kartono (1991;13) menyebutkan pokok kerja yaitu;
memproduksi barang/benda dan jasa-jasa bagi diri sendiri dan orang lain
Meningkatkan individu pada pola interaksi manusiawi dengan individu lain, karena orang harus selalu bekerja sama dan berkomunikasi dengan orang lain.
Kerja penting untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu dengan kerja orang merasa berguna, diinginkan, dan dibutuhkan serta untuk mencapai status sosial yang dikehendaki. Orang bekerja untuk mempertahankan eksistensi hidupnya. Mereka yang benar-benar mencintai dan menyadari arti dan pentingnya kerja akan mendapatkan kesuksesan dalam hidupnya. Kerja semata-mata bukan hanya karena uang, tetapi karena ingin mendapatkan pengakuan atas status sosial, prestasi, komunikasi sosial yang terbuka, penghargaan dan persahabatan dengan individu lainnya.
Kepuasan kerja dalam pekerjaan adalah kepuasan yang dinikmati dalam pekerjaan dengan memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan dalam pekerjaan dengan memperoleh pujian hasil kerja yang baik.
Menurut Wirawan (2002; 45) mengatakan kepuasan kerja bawahan dipengaruhi beberapa faktor berikut;
Balas jasa yang adil dan layak
Penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian
Berat ringannya pekerjaan
Suasana dan lingkungan pekerjaan
Peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan
Kepuasan kerja mempengaruhi tingkat kedisiplinan bawahan, artinya, jika kepuasan diperoleh dari pekerjaan maka kedisiplinan bawahan baik. Sebaliknya juga kepuasan kerja kurang tercapai dari pekerjaanya maka kedisiplinan bawahan akan rendah.
Kepuasan kerja bawahan banyak dipengaruhi sikap pimpinan dalam kepemimpinannya. Kepemimpinan berpartisipasi memberikan kepuasan kerja serta meningkatkan keefektivitasan kerja bagi bawahan karena bawahan ikut aktif dalam memberikan pendapatnya untuk menentukan kebijakan-kebijakan yang diambil dalam pencapaian tujuan organisasi.
Kepemimpinan yang otoriter dan kurang menerapkan disiplin, motivasi, evaluasi, serta faktor-faktor lainnya, dapat mengakibatkan efektivitas kerja aparat rendah.

Konsep Efektivitas Kerja
Konsep efektivitas kerja sesungguhnya merupakan suatu konsep yang luas, mencakup berbagai faktor didalam maupun diluar organisasi. Konsep efektivitas kerja ini oleh para ahli belum ada keseragaman pandangan dan hal tersebut dikarenakan sudut pandang yang dilakukan dengan pendekatan disiplin ilmu yang berbeda, sehingga melahirkan konsep yang berbeda pula dalam pengukurannya. Namun demikian, banyak juga ahli dan peneliti yang telah mengemukakan apa dan bagaimana mengukur efektivitas kerja itu.
Menurut Sutarto (1978; 95) Efektivitas Kerja adalah suatu keadaan dimana aktifitas jasmaniah dan rohaniah yang dilakukan oleh manusia dapat mencapai hasil akibat sesuai yang dikehendaki.
Efektivitas kerja merupakan suatu ukuran tentang pencapaian suatu tugas ataupun tujuan (Schermerhorn, 1998;5)
Menurut Siagian, (1986;152) efektivitas kerja berarti penyelesaian pekerjaan tepat pada waktunya seperti yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sementara itu, menurut Handoko (1997;7) Efektivitas kerja merupakan kemampuan memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang ditetapkan.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa efektivitas kerja merupakan segala tindakan manusia dalam menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya, serta mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasarannya.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Kerja Aparat
Seorang pimpinan mengakui dan menyadari bahwa tujuan organisasi akan tercapai jika terbina kerjasama yang harmonis antara sesama karyawan, bawahan, dan atasan serta terjadi interaksi yang baik diantara semua aparat. Pemikiran ini didasarkan pada adanya saling ketergantungan, interaksi, dan keterkaitan diantara sesama karyawan.
Demikan halnya, organiasasi akan berjalan terarah jika memilki tujuan yang jelas. Adanya tujuan akan memberikan motivasi untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Selanjutnya tujuan organisasi mencakup beberapa fungsi diantaranya yaitu memberikan pengarahan dengan cara menggambarkan keadaan yang akan datang yang senantiasa dikejar dan diwujudkan oleh organisasi.
Hasibuan (2010;31) mengemukakan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran efektivitas sebuah organisasi diantaranya;
Perencanaan
Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja secara efektif serta efisien, agar sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi dan koordinasi dalam bagan organisasi. Dengan organisasi yang baik akan membantu terwujudnya tujuan secara efektif
Pengarahan
Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan agar mau bekerja sama dan bekerja efektif serta efisien dalam membantu tercapainya tujuan organisasi, karyawan dan masyarakat.
Pengendalian
Pengendalian ialah kegiatan mengendalikan semua karyawan, agar menaati peraturan dan bekerja sesuai dengan rencana. Pengendalian pegawai meliputi kehadiran, kedisiplinan, perilaku dan kerja sama, pelaksanaan pekerjaan serta menjaga situasi lingkungan pekerjaan.
Kedisiplinan
Kedisiplinan adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan agar mereka tetap mau bekerjasama dengan baik.
Pengembangan
Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan tekhnis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi organisasi harus mendapat perhatian yang serius apabila ingin mewujudkan suatu efektivitas. Richard M. Steers (1985;209) menyebutkan ada 4 (empat) faktor yang mempengaruhi efektivitas yaitu;
Karakteristik Organisasi;
Karakteristik Lingkungan;
Karakteristik Pekerja;
Kebijakan dan praktek manajemen;
Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja aparat menurut Richard Steers (1985;209) tersebut, dapat dijabarkan sebagai berikut;
Karakteristik organisasi
Karakteristik organisasi terdiri dari struktur dan tehnologi organisasi yang dapat mempengaruhi segi-segi tertentu dari efektivitas dengan berbagai cara.
Yang dimaksud struktur adalah hubungan yang relatif tetap sifatnya, seperti dijumpai dalam organisasi. Sehubungan dengan susunan sumber daya manusia, struktur meliputi bagaimana cara organisasi menyusun orang-orang dalam menyelesaikan pekerjaan, atau dapat dikatakan bahwa struktur organisasi menggambarkan bagaimana tugas pekerjaan dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasikan secara formal.
Hasibuan, (2010; 33) mengemukakan bahwa uraian pekerjaan atau jabatan harus jelas dan persepsinya mudah dipahami, serta menguraikan hal-hal sebagai berikut;
Identifikasi pekerjaan atau jabatan yakni memberikan nama jabatan, seperti; Camat, Sekcam, Staf.
Hubungan tugas dan tanggung jawab, yakni perincian tugas dan tanggung jawab secara nyata diuraikan secara terpisah agar jelas diketahui.
Standar wewenang dan pekerjaan, yakni kewenangan dan prestasi yang harus dicapai oleh setiap pejabat/pegawai harus jelas.
Syarat kerja harus diuraikan dengan jelas, seperti peralatan dan fasilitas yang digunakan untuk melakukan pekerjaan tersebut
Ringkasan pekerjaan atau jabatan, hendaknya menguraikan bentuk umum pekerjaan dengan hanya mencantumkan fungsi-fungsi dan aktivitas utamanya
Penjelasan tentang jabatan dibawah dan diatasnya, yaitu harus dijelaskan jabatan dari mana si-pegawai mengawali jabatannya, dan kejabatan mana si-pegawai akan melanjutkan jabatannya.
Oleh karenanya, uraian pekerjaan (job description) dan uraian jabatan (job position) harus ditetapkan secara jelas untuk setiap jabatan, supaya pegawai dapat mengetahui tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan.
Indikator kedua pada karakteristik organisasi adalah tehnologi. Yang dimaksud dengan tehnologi adalah mekanisme suatu organisasi untuk mengubah masukan mentah menjadi keluaran.
Dengan tehnologi yang tepat akan menunjang kelancaran organisasi didalam mencapai sasaran. Dengan demikian, perlengkapan dan fasilitas adalah suatu sarana dan peralatan yang merupakan faktor yang berorientasi pada karya yang akan dihasilkan oleh aparat, karena fasilitas yang kurang lengkap akan mempengaruhi kelancaran aparat dalam bekerja. Semakin baik sarana yang disediakan oleh organisasi akan mempengaruhi semakin baiknya kinerja seseorang dalam mencapai tujuan atau hasil yang diharapkan.

Karakteristik Lingkungan
Karakteristik lingkungan mencakup dua aspek. Aspek pertama adalah lingkungan ekstern, yaitu lingkungan yang berada diluar batas organisasi dan sangat berpengaruh terhadap organisasi, terutama dalam pembuatan keputusan dan pengambilan tindakan.
Faktor ekstern ini dapat berupa hubungan dengan Masyarakat sekitar. Dan pengaruh iklim dari luar (ekstern) dari masyarakat yaitu kekompleks-an, kestabilan dan ketidaktentuan. Kekompleks-an artinya bahwa lingkungan itu sangat kompleks dari berbagai aspek, sedangkan kestabilan dan ketidaktentuan ini merupakan pengaruh global bila keadaan aman dan tidak ada gejolak mengakibatkan kestabilan selanjutnya bila keadaan sebaliknya maka yang terjadi ketidaktentuan.
Aspek ke-dua adalah lingkungan interen, yang dikenal sebagai iklim organisasi yaitu lingkungan yang secara keseluruhan dalam lingkungan organisasi.
Lingkungan kerja atau yang sering disebut dengan iklim organisasi adalah menyangkut tata ruang, cahaya alam dan pengaruh suara yang mempengaruhi konsentrasi aparat sewaktu bekerja. Tata ruang, pencahayaan maupun pengaruh suara harus diperhatikan oleh seorang pimpinan guna terciptanya rasa nyaman bagi para aparat dalam pencapaian keefektivitasan kerja aparat.
Steers, (1985:120) berbicara mengenai iklim organisasi berarti berbicara mengenai sifat atau ciri yang dirasakan dalam lingkungan kerja dan timbul karena adanya kegiatan organisasi yang dilakukan secara sadar atau yang dianggap mempengaruhi perilaku kemudian, dengan perkataan lain iklim organisasi dapat dipandang sebagai kepribadian organisasi seperti yang terlihat oleh para anggota.
Pembahasan pada konsep karakteristik lingkungan (Iklim) sebenarnya, berarti membahas mengenai sifat-sifat organisasi atau ciri-ciri yang melekat dan dirasakan dalam lingkungan kerja organisasi yang timbul karena kegiatan organisasi yang dianggap mempengaruhi terhadap perilaku aparat. Pembahasan pada konsep Iklim organisasi sebenarnya, berarti membahas mengenai sifat-sifat organisasi atau ciri-ciri yang melekat dan dirasakan dalam lingkungan kerja organisasi yang timbul karena kegiatan organisasi yang dianggap mempengaruhi terhadap perilaku aparat.
Dengan demikian iklim merupakan dasar bagi para individu atau aparat untuk menafsirkan dan memahami keadaan sekitar mereka dan menentukan hubungan antara imbalan dan hukuman Forehand & Gilmer (dalam Steers; 1985) Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Campbell dan Beaty, 1971 (dalam Steers, 1985) dengan mengembangkan ukuran-ukuran iklim organisasi yang telah teridentifikasi menjadi 10 (sepuluh) dimensi antara lain:
Struktur tugas, yaitu tingkat perincian dan metode yang dipergunakan dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi.
Hubungan imbalan-hukuman, yaitu tingkat batas pemberian imbalan tambahan seperti promosi dan kenaikan gaji berdasarkan pada prestasi kerja dan jasa bukan pada pertimbangan-pertimbangan senioritas, favoritisme, like dan dislikes dan seterusnya.
Sentralisasi keputusan, yaitu batasan keputusan-keputusan penting yang harus diambil oleh pucuk pimpinan atau manajemen atas.
Tekanan pada prestasi, yaitu keinginan pihak pekerja organisasi untuk melakukan pekerjaan dengan baik dan memberikan sumbangannya bagi sasaran karya organisasi.
Tekanan pada latihan dan pengembangan .tingkat pada organisasi berusaha meningkatkan prestasi individu melalui kegiatan latihan dan pengembangan yang tepat.
Keamanan versus resiko, yaitu Tingkat batas tekanan dalam organisasi menimbulkan perasaan kurang aman dan kecemasan pada para anggotanya.
Keterbukaan versus ketertutupaan yaitu tingkat batas-batas orang-orang lebih suka berusaha menutupi kesalahan mereka dan menampilkan diri dengan secara baik dari pada berkomunikasi secara bebas dan bekerjasama.
Status dan semangat kerja yaitu Perasaan umum diantara para individu bahwa organisasi merupakan tempat bekerja yang baik.
Pengakuan dan umpan balik yaitu tingkat batas seorang individu mengetahui apa pendapat atasanya dan manajemen menenai pekerjaannya serta tingkat batas dukungan mereka atas dirinya
Kompentasi dan keluwesan organisasi secara umum, yaitu Tingkat batas organisasi mengetahui apa tujuannya dan mengejarnya secara luwes dan kreatif termasuk juga batas organisasi mengantisipasi masalah, mengembangkan metode baru, dan mengembangkan ketrampilan baru pada karyawan sebelum masalahnya menjadi rawan

Kompensasi juga merupakan faktor intern yang dapat mempengaruhi tingkat ke-efektivan kerja aparat. Pemberian kompensasi diharapkan dapat memberikan kepuasan dari hasil pekerjaannya.
Hasibuan (2010;120) mengemukakan bahwa terdapat beberapa kebutuhan yang dipuaskan dengan bekerja antara lain sebagai berikut;
Kebutuhan fisik dan keamanan, menyangkut kepuasan kebutuhan fisik atau biologis seperti makan, minum, tempat tinggal dan semacamnya, disamping kebutuhan akan rasa aman dalam menikmatinya.
Kebutuhan sosial, karena manusia tergantung satu sama lain maka terdapat berbagai kebutuhan yang hanya bisa dipuaskan apabila masing-masing individu ditolong atau diakui oleh orang lain.
Kebutuhan egoistik, berhubungan dengan keinginan orang untuk bebas, untuk mengerjakan sesuatu sendiri dan untuk puas karena berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

Iklim organisasi dalam suatu organisasi mempunyai peranan penting karena iklim yang serasi atau kondusif akan dapat mendorong peningkatan kualitas pelayanan dan sebaliknya iklim yang bertentangan dengan kebutuhan anggota akan berimplikasi pada rendahnya kualitas pelayanan.

Karakteristik Pekerja / Prestasi Kerja
Karakteristik pekerja merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap efektivitas. Dalam hal ini diperlukan adanya rasa Keterkaitan pada organisasi, Ketertarikan, Kemantapan Kerja, dan Keikatan. Didalam diri setiap individu akan ditemukan banyak perbedaan, akan tetapi kesadaran individu akan perbedaan itu sangat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Jadi apabila suatu organisasi menginginkan keberhasilan, organisasi tersebut harus dapat mengintegrasikan tujuan individu dengan tujuan organisasi.
Pada kenyataannya, para anggota organisasi / aparat merupakan faktor yang paling penting karena perilaku merekalah yang dalam jangka panjang akan memperlancar atau merintangi tercapainya tujuan organisasi.
Aparat adalah aset utama dalam suatu organisasi, yang menjadi perencana dan pelaku aktif dari setiap aktivitas organisasi. Mereka mempunyai perasaan, pikiran, keinginan, status, dan latar belakang pendidikan, usia, dan jenis kelamin yang heterogen yang dibawa dalam organisasi. Pengadaan aparat merupakan masalah penting, sulit, dan kompleks karena untuk mendapatkan dan menempatkan orang-orang yang kompeten, serasi, serta efektif tidaklah semudah membeli mesin atau peralatan serta fasilitas kantor.
Aparatur pemerintah, bukan mesin, uang, atau perlengkapan dan fasilitas yang sifatnya pasif dan dapat dikuasai serta diatur sepenuhnya dalam mendukung tercapainya tujuan organisasi. Kualitas dan kuantitas aparat harus sesuai dengan kebutuhan organisasi, guna efektif dan efisien menunjang tercapainya tujuan.
Apabila seorang aparat mempunyai produktivitas kerja yang tinggi dalam bekerja tentunya akan dapat menghasilkan efektivitas kerja yang baik demikian pula sebaliknya kalau produktifitas kerjanya buruk serta sedikit maka akan menghasilkan efektifitas kerja yang buruk.
Menurut Hasibuan (2010;70) dengan pengembangan, produktifitas kerja karyawan akan meningkat, kualitas produksi dan kuantitas produksi semakin baik, karena technical skill, human skill, dan managerial skill karyawan semakin baik.
Guna tercapainya produktivitas serta prestasi kerja, maka perlu adanya rasa keterikatan terhadap organisasi melalui disiplin kerja serta adanya motivasi dari pimpinan.
Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja, dan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
Sejalan dengan hal ini, Hasibuan (2010;193) mengemukakan bahwa Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku.
Masalah kedisiplinan waktu merupakan masalah yang perlu diperhatikan, sebab dengan adanya kedisiplinan waktu, dapat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan organisasi.
Pada dasarnya banyak indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan pegawai yang diantaranya adalah;
Tujuan dan kemampuan
Teladan pimpinan
Balas jasa
Keadilan
Waskat (Pengawasan melekat)
Sanksi hukuman
Ketegasan, dan
Hubungan kemanusiaan

Disiplin kerja pada dasarnya dapat diartikan sebagai bentuk ketaatan dari perilaku seseorang dalam mematuhi ketentuan-ketentuan ataupun peraturan-peraturan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan, dan diberlakukan dalam suatu organisasi atau perusahaan.
Demikian pula halnya Hasibuan, mengungkapkan bahwa hukuman diperlukan dalam meningkatkan kedisiplinan dan mendidik pegawai supaya menaati semua peraturan perusahaan. Pemberian hukuman harus adil dan tegas terhadap semua pegawai. Peraturan tanpa dibarengi pemberian hukuman yang tegas bagi pelanggarnya bukan menjadi alat pendidik bagi pegawai.
Maka dapat disimpulkan bahwa kedisiplinan merupakan karakteristik pekerja yang juga merupakan faktor utama yang dapat mempengaruhi efektivitas kerja aparat. Semakin lama tugas yang dibebankan itu dikerjakan, maka semakin banyak tugas lain menyusul dan hal ini akan memperkecil tingkat efektivitas kerja, karena memakan waktu yang tidak sedikit.
Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, guna peningkatan prestasi kerja, maka perlu adanya motivasi, karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal maka motivasi sangatlah penting sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja selain disiplin kerja.
Dimana Hasibuan, (2010; 147) mengemukakan tujuan motivasi antara lain sebagai berikut;
Meningkatkan moral dan kepuasan kerja pegawai
Meningkatkan produktifitas kerja pegawai
Mempertahankan kestabilan pegawai.
Meningkatkan kedisiplinan pegawai
Mengefektifkan pengadaan pegawai
Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
Meningkatkan loyalitas, kreativitas, dan partisipasi karyawan/pegawai
Meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai
Mempertinggi rasa tanggung jawab pegawai terhadap tugas-tugasnya.
Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku.

Siagian, (2004; 106) menyatakan bahwa Motivasi dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses pemberian dorongan bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efektif, efisien dan ekonomis.
Menurut Filipino, (dalam Hasibuan, 2010; 143), motivasi adalah suatu keahlian, dalam mengarahkan pegawai dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga keinginan para pegawai dan tujuan organisasi sekaligus tercapai.
Menurut Moskowist (dalam Hasibuan, 2010; 143), motivasi secara umum didefenisikan sebagai inisiasi dan pengarahan tingkah laku dan pelajaran motivasi sebenarnya merupakan pelajaran tingkah laku.
Maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya dan upayanya untuk mencapai kepuasan.
Dengan demikian atasan/pimpinan dapat mendorong bawahannya melalui perhatian pada kebutuhan dan tujuan para aparat yang sensitif.
Semakin termotivasi aparat untuk bekerja secara positif, semakin baik pula kinerja / prestasi kerja yang dihasilkan.

Karakteristik Manajemen / Kebijakan dan Praktek Manajemen.
Karakteristik manajemen adalah strategi dan mekanisme kerja yang dirancang untuk mengkondisikan semua hal didalam organisasi sehingga efektivitas tercapai. Kebijakan dan praktek manajemen merupakan alat bagi pimpinan untuk mengarahkan setiap kegiatan guna mencapai tujuan organisasi.
Dalam melaksanakan kebijakan dan praktek manajemen harus memperhatikan manusia tidak hanya mementingkan strategi dan mekanisme kerja saja. Mekanisme ini meliputi penyusunan tujuan strategis, pencarian dan pemanfaatan atas sumber daya, penciptaan lingkungan prestasi melalui evaluasi aparat, proses komunikasi serta pengawasan, kepemimpinan dan pengambilan keputusan, serta adaptasi terhadap perubahan lingkungan inovasi organisasi.
Telah diketahui bahwa salah satu sasaran pokok administrasi dan manajemen dalam menjalankan kegiatan-kegiatan dalam suatu organisasi adalah untuk mencapai efisiensi dan keefektivitasan kerja aparat yang semaksimal mungkin.
Siagian, (2004; 112) berpendapat bahwa pengawasan itu sendiri ialah Proses pengamatan pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
Dimana proses pengawasan pada dasarnya dilaksanakan oleh administrasi dan manajemen dengan mempergunakan dua macam teknik yaitu;
Pengawasan Langsung
Pengawasan langsung ialah apabila pimpinan organisasi melakukan sendiri pengawasan terhadap kegiatan yang sedang dijalankan oleh para bawahan. Pengawasan langsung ini dapat berbentuk; inspeksi langsung.
Pengawasan Tidak Langsung
Pengawasan tidak langsung ialah pengawasan dari jarak jauh, pengawasan ini biasanya dilakukan melalui laporan yang disampaikan oleh para bawahan. Laporan tersebut dapat berupa lisan dan tulisan.
Kelemahan dari pengawasan tidak langsung ini ialah bahwa sering para bawahan hanya melaporkan hal-hal positif saja. Dengan kata lain, para bawahan mempunyai kecenderungan hanya melaporkan hal-hal yang diduganya akan menyenangkan atasannya.
Diharapkan dengan adanya pengawasan ini, maka kinerja aparat dapat terus terpantau dan hal ini dapat memperkecil resiko kesalahan dalam pelaksanaan tugas dan tentunya dapat meningkatkan keefektivitasan kerja aparat.
Tentunya pengawasan ini perlu dibarengi dengan adanya evaluasi hasil kerja, karena seperti yang telah di jabarkan oleh penulis sebelumnya bahwa kebijakan dan praktek manajemen merupakan alat bagi pimpinan untuk mengarahkan setiap kegiatan guna mencapai tujuan organisasi.
Siagian, (2004; 117) berpendapat bahwa evaluasi kerja atau penilaian dapat didefenisikan sebagai proses pengukuran dan pembandingan hasil-hasil pekerjaan yang nyatanya dicapai dengan hasil –hasil yang seharusnya dicapai.
Demikian halnya, Hasibuan, (2010; 35) mengemukakan bahwa evaluasi pekerjaan adalah menilai berat atau ringan, mudah atau sukar, besar atau kecil resiko pekerjaan dan memberikan nama, rangking/peringkat, serta harga atau gaji suatu jabatan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hakikat dari penilaian ini, atasan memberikan dorongan, bantuan, dan informasi kepada bawahan. Sebaliknya bawahan harus melaksanakan tugas dengan baik dan menyelesaikannya untuk dievaluasi apakah tugas terlaksana dengan baik atau tidak, guna pencapaian keefektivitasan kerja aparat.
Kerangka Berfikir
Dari uraian latar belakang masalah dan kajian pustaka yang telah dikemukakan penulis sebelumnya, untuk itu penulis mencoba mengemukakan suatu kerangka berfikir tentang faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja aparat di Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo yang dapat digambarkan dalam suatu bagan sebagai berikut;






Gambar 1; Kerangka Berfikir
BAB III
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo, pertimbangan memilih Kantor Camat Batudaa Pantai adalah;
Sebagai tempat kerja dari penulis, sehingga biaya operasional dari penelitian dapat diperkecil,
Kantor Camat Batudaa Pantai sangat berperan aktif dan berkaitan erat dengan pelayanan terhadap masyarakat.

Jenis Penelitian
Berdasarkan data yang telah diamati, maka jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan survey.
Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (1989;3) mengemukakan bahwa metode survey merupakan penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data yang pokok.
Dalam survey tersebut dirancang untuk informasi tentang keadaan yang sebenarnya pada saat penelitian dengan harapan agar penelitian tersebut dapat menggambarkan keadaan atau kondisi yang terdapat dalam satu masalah.
Berdasarkan bentuk permasalahannya, maka penelitian ini termasuk penelitian Deskriptif Kuantitatif.

Variabel Penelitian
Pada penelitian ini, hanya terdapat satu variabel yakni faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja aparat sebagai variabel independent (variabel bebas).

Operasionalisasi Penelitian (Indikator)
Untuk mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja aparat pada Kantor Camat Batudaa Pantai, maka dalam penelitian ini peneliti mengukur efektivitas kerja aparat, menggunakan beberapa indikator sebagai berikut:
Karakteristik Organisasi;
Struktur (Pembagian Tugas)
Tehnologi (Perlengkapan dan Fasilitas)
Karakteristik Lingkungan;
Ekstern (Hubungan dengan masyarakat)
Intern (Lingkungan kerja/Iklim Kerja dalam organisasi)
Karakteristik Pekerja;
Produktivitas / Prestasi Kerja serta adanya Motivasi dari pimpinan
Keterikatan pada Organisasi (adanya rasa keterikatan pegawai melalui disiplin waktu)
Kebijakan dan praktek manajemen;
Pengawasan
Evaluasi Kerja.
Populasi
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Aparat pada Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo berjumlah 30 orang. Dari keseluruhan responden semuanya dijadikan populasi dalam penelitian (sensus).

Teknik Pengumpulan Data
Kegiatan yang dilakukan pada pengumpulan data dimaksudkan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah dari objek yang diteliti..
Tahap-tahap yang dilakukan penulis dalam pengumpulan data ini, yaitu:
Observasi
Observasi adalah kegiatan dimana penulis/ peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sugiono (2010; 145), menegaskan pula bahwa “melalui observasi berperan serta, data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak”.
Wawancara
Wawancara adalah teknik yang digunakan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian, terutama untuk mendapatkan klasifikasi mengenai hal-hal tertentu yang masih kurang jelas atau meragukan. Dimana hasilnya akan menjadi data pembanding terhadap data yang diperoleh melalui observasi.
Pembagian angket/ kuisioner
Pembagian angket / kuisioner merupakan daftar pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis pula.
Dokumentasi
Dokumentasi ialah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen.

Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif.
Analisis deskriptif kuantitatif dilakukan dengan cara mendiskripsikan semua data dalam bilangan persentase dan tabel frekuensi. Dimana untuk memperoleh persentase pada tabel frekuensi, menggunakan rumus oleh (Soerjono Soekanto,2001;286) sebagai berikut;

.
Dimana;
P : Persentase
F : Frekuensi
N : Jumlah Responden

Selain mendiskripsikan semua data dalam bilangan persentase dan tabel frekuensi, data diinterpretasikan dalam skor rata-rata. Skor rata-rata adalah skala yang digunakan untuk mengklasifikasikan data-data berdasarkan kategorinya.
Dimana daftar skor rata – rata menurut Tjipto Atmoko, dkk pada Pusat Penelitian Kebijakan Publik dan Pengembangan Wilayah Universitas Padjadjaran dengan menggunakan metode perhitungan dalam KepmenPAN tentang IKM No. Kep/25/M.PAN/2/2004, dikonsultasikan dengan kriteria nilai capaian yang di disusun sebagai berikut;
Skor rata – rata mencapai 3,50 – 4,00 dalam kriteria sangat baik
Skor rata – rata mencapai 2,50 – 3,49 dalam kriteria baik
Skor rata – rata mencapai 1,50 – 2,49 dalam kriteria kurang baik
Skor rata – rata mencapai 0,50 – 1,49 dalam kriteria tidak baik










BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Lokasi Penilitian
Sejarah Singkat Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo
Kecamatan Batudaa Pantai merupakan salah satu kecamatan yang berada diwilayah hukum Kabupaten Gorontalo yang secara definitif terbentuk berdasarkan Perda Nomor 43 Tahun 1995, sebagai hasil dari pemekaran Kecamatan Batudaa.
Secara geografis Kecamatan Batudaa Pantai terletak pada 〖0.30〗^0LU– 〖1.00〗^0LS dan 〖121〗^0BT – 〖123.30〗^0 BB dengan luas wilayah keseluruhan 6, 48 〖KM〗^2, dan batas-batas wilayah terdiri dari;
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Batudaa
Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini
Sebelah Timur berbatasan dengan Kota Gorontalo
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Biluhu.

Organisasi dan Tata Kerja Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.
Kantor Camat Batudaa Pantai dipimpin oleh seorang Camat dengan Eselon III/A dan dibantu seorang Sekretaris Camat dengan Eselon IV/A serta lima orang Kepala Seksi dengan eselon IV/A. Dengan demikian, Pemerintahan Kecamatan Batudaa Pantai yang membawahi Sembilan desa tersebut, beroleh kewenangan untuk menyelenggarakan kegiatan dibidang Pemerintahan, Pembangunan dan Pelayanan Kemasyarakatan, dimana kewenangan tersebut meliputi bidang;
Bidang Pemerintahan,
Bidang Ketentraman dan Ketertiban
Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa,
Bidang Kesejahteraan Sosial,
Bidang Pelayanan Umum.
Struktur dan bagan organisasi (organization chart) memberikan manfaat dan informasi penting tentang hal-hal berikut:
Pembagian kerja;
Informasi atasan dan bawahan;
Jenis pekerjaan yang dilaksanakan;
Pengelompokan bagian-bagian kerja;
Tingkat manajer;
Pimpinan organisasi.
Struktur organisasi dan tata kerja Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo adalah berdasarkan pada Peraturan Daerah Kabupaten Gorontalo Nomor 38 Tahun 2000 tanggal 30 Desember 2000, tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan Kabupaten Gorontalo, dapat digambarkan sebagai berikut

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA
KANTOR CAMAT BATUDAA PANTAI
KABUPATEN GORONTALO












Gambar 2; Bagan Struktur Organisasi Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo ( dalam Laporan Keadaan Pegawai Kantor Pemerintahan Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, 2010; 8)


Tugas dan Fungsi Aparatur Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.
Seperti yang telah dijabarkan terlebih dahulu, Kantor Camat Batudaa Pantai, merupakan suatu organisasi yang menjalankan tugas dan wewenang serta tanggung jawab pemerintahan dalam bidang Kemiskinan, Kesehatan, Pendidikan, Sosial Budaya, dan Pengembangan usaha ekonomi masyarakat sebagai bagian dari upaya uintuk mewujudkan kehidupan masyarakat sejahtera, mandiri dan berkeadilan sosial sesuai visi misi Kabupaten Gorontalo.

Tugas Kepala Kantor
Kepala Kantor Camat Batudaa Pantai, sebagai Top Leader memegang peranan penting, mengingat tanggung jawabnya untuk mengkoordinasikan segala kegiatan yang berhubungan dengan tugas dan fungsi organisasi pemerintahan yang dipimpinnya.
Untuk itulah dalam melaksanakan kewajibannya maka sesuai Perda No.38 tahun 2000 dan Peraturan Bupati Nomor 43 Tahun 2002, tugas dan fungsi pokok seorang Camat dijabarkan sebagai berikut;
Tugas Camat
“Membantu Kepala Daerah dalam penyelanggaraan Pemerintahan, Pembangunan dan Pembinaan kehidupan kemasyarakatan dalam wilayah kecamatan”.

Fungsi Camat
Pelaksana pelimpahan sebagai kewenangan pemerintahan daerah
Pelayanan penyelenggaraan pemerintahan Kecamatan
Untuk menyelenggarakan fungsi Camat tersebut diatas, Camat mempunyai kewenangan sebagai berikut;
Penyelenggara tugas-tugas pemerintahan umum dan pembinaan keagrarian dan pembinaan sosial politik dalam negeri.
Pembinaan pemerintahan desa
Pembinaan ketentraman dan ketertiban wilayah,
Pembinaan pembangunan yang meliputi pembinaan sarana dan prasarana, perekonomian, produksi dan distribusi serta pembinaan lingkungan hidup
Pembinaan kesejahteraan sosial
Pembinaan pelayanan umum
Penyusunan rencana dan program, pembinaan administrasi, ketatausahaan dan rumah tangga.

Perincian Tugas dan Fungsi Sekretariat serta Seksi - Seksi;
Sekertariat
Tugas;
Membantu Camat dalam melaksanakan pembinaan administrasi dan memberikan pelayanan teknis administratif kepada seluruh satuan organisasi kantor kecamatan.

Fungsi;
Penyusunan rencana, pengendalian dan evaluasi pelaksanaannya serta penyusunan laporan.
Penyusunan anggaran dan penata usahaan serta penyusunan pertanggungjawaban keuangan.
Pelaksanaan umum ketatausahaan, kearsipan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan rumah tangga.

Seksi Pemerintahan
Tugas;
Melaksanakan penyelenggraaan tugas-tugas pemerintahan umum, pembinaan keagrariaan, pembinaan sosial politik dalam negeri, administrasi kependudukan serta pembinaan pemerintahan desa.
Fungsi;
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta penyelenggaraan pembinaan pemerintahan umum dan pemerintahan desa.
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta penyelenggaraan pembinaan administrasi kependudukan.
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta pembinaan penyelenggaraan kegiatan sosial politik, idiologi Negara, dan kesatuan bangsa.
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta pembinaan penyelenggaraan keagrariaan.
Pengolahan data dan evaluasi data dibidang pemerintahan.
Pelayanan masyarakat dibidang pemerintahan

Seksi Ketentraman dan Ketertiban
Tugas;
Melakukan pembinaan ketentraman dan ketertiban wilayah serta pembinaan polisi pamong praja
Fungsi;
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta pembinaan penyelenggaraan pembinaan ketentraman dan ketertiban wilayah
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta pembinaan penyelenggaraan pembinaan aparat ketertiban dan polisi pamong praja.
Pengolahan data dan evaluasi data dibidang ketentraman dan ketertiban.
Pelayanan masyarakat dibidang ketentraman dan ketertiban
Penyelenggaraan kegiatan administrasi perlindungan masyarakat.



Seksi Pemberdayaan Masyarakat
Tugas;
Melakukan pembinaan masyarakat dibidang sarana dan prasarana, dan distribusi serta pembinaan lingkungan hidup.
Fungsi;
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta pembinaan penyelenggaraan pembinaan pembangunan sarana dan prasarana fisik, perekonomian, produksi dan distribusi.
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta pembinaan penyelenggaraan pembinaan perekonomian meliputi perbankan, perkreditan rakyat, perkoperasian, pertanian, perindustrian dan perdagangan, usaha informal, dan kebutuhan serta peningkatan kelancaran distribusi hasil produksi.
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta penyelenggaraan pembinaan lingkungan hidup.
Pengolahan data dan evaluasi data dibidang pemberdayaan masyarakat
Penyelenggaraan kegiatan administrasi pemberdayaan masyarakat.

Seksi Kesejahteraan Sosial
Tugas;
Mengkoordinasikan penyusunan program dan melaksanakan pembinaan kesejahteraan sosial.
Fungsi;
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta penyelenggaraan pembinaan pelayanan dan bantuan sosial, pembinaan kepemudaan, peranan wanita dan olah raga.
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta penyelenggaraan pembinaan kehidupan keagamaan, pendidikan, kebudayaan dan kesehatan masyarakat.
Pengolahan data dan evaluasi data dibidang kesejahteraan sosial,
Penyelenggaraan masyarakat dibidang kesejahteraan sosial,
Penyelenggaraan kegiatan administrasi kesejahteraan sosial.

Seksi Pelayanan Umum
Tugas;
Melakukan urusan pelayanan umum yang meliputi pelayanan kekayaan dan inventaris desa, kebersihan, sarana dan prasarana umum serta perizinan.
Fungsi;
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta penyelenggaraan pembinaan pelayanan kekayaan dan inventaris desa.
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta penyelenggaraan pembinaan pelayanan kebersihan, keindahan, pertanaman, dan sanitasi lingkungan.
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta penyelenggaraan pembinaan sarana dan prasarana fisik pelayanan umum,
Penyiapan bahan dan penyusunan program serta penyelenggaraan pembinaan pelayanan perizinan,
Penyiapan bahan dan penyelenggaraan rapat-rapat dinas dan upacara.

Keadaan Aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.
Aparat pemerintahan dalam setiap organisasi pemerintahan sangat menunjang keberhasilan organisasi tersebut dalam melaksanakan tugas dan fungsi, sebab aparat merupakan tulang punggung pemerintah dalam melaksanakan pembangunan nasional.
Demikian pula, aparat yang ada pada Kantor Camat Batudaa Pantai,Kabupaten Gorontalo memegang peran yang sama dengan aparat yang lain, hanya saja perbedaannya terletak pada ruang lingkup kegiatan yang berbeda-beda.
Pada saat ini aparat pada Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo berjumlah 30 orang. Untuk lebih jelasnya keadaan aparat pada Kantor Kecamatan Batudaa Pantai dapat dilihat pada Tabel berikut;

Susunan Kepegawaian, Kepangkatan dan Golongan.
Pegawai Negeri Sipil (25 orang);
GOLONGAN JUMLAH %
IV / a - -
III / d 3 12
III / c 1 4
III / b 1 4
III / a 5 20
II / d - -
II / c 3 12
II / b 4 16
II / a 7 28
I / c 1 4
Jumlah 25 100



Tenaga Honorer/Kontrak (5 orang)
TENAGA KONTRAK JUMLAH %
SOPIR 1 20
WAKER 1 20
TENAGA ABDI 3 60
Jumlah 5 100


Jenjang Pendidikan
Pegawai Negeri Sipil
TINGKAT PENDIDIKAN JUMLAH %
PASCA SARJANA (S2) - -
SARJANA (S1) 6 24
DIPLOMA (D-III) 2 8
DIPLOMA (D-II) 1 4
DIPLOMA (D-1) 1 4
SMU /SEDERAJAT 14 56
SMP / SEDERAJAT 1 4
Jumlah 25 100

Tenaga Honorer/ Abdi
TINGKAT PENDIDIKAN JUMLAH %
SARJANA (S1) 1 20
DIPLOMA (D-III) 1 20
SMU /SEDERAJAT 3 60
Jumlah 5 100




Deskripsi Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan pada Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo diperoleh hasil-hasil yang penulis uraikan dalam bentuk tabel dengan menggunakan Tabel Frekuensi berdasarkan pada masing-masing faktor serta indikator yang mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai.

Karakteristik Organisasi.
Pada faktor pertama ini terdapat dua indikator yakni Struktur dan Tehnologi.
Indikator Pertama, Struktur Organisasi (Pembagian Tugas/ Job Descprition). Pada proses penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden menunjukkan hasil penelitian sebagai berikut:
TABEL 1
“Tanggapan responden tentang perlunya uraian pekerjaan”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Perlu 4 17 68 57
2 Perlu 3 9 27 30
3 Kurang Perlu 2 4 8 13
4 Tidak Perlu 1 - - -
JUMLAH (N) 30 103 100
Skor Rata-Rata 3,5
Sumber data; Hasil Penelitian

Melalui tabel tersebut, terdapat 17 orang responden (57%) yang menjawab job description/ uraian pekerjaan sangat perlu guna peningkatan ke-efektivitasan kerja pegawai, 9 orang responden (30%) yang menjawab perlu, 4 orang responden (13%) yang menjawab kurang perlunya uraian pekerjaan bagi para aparat dan tidak ada seorang responden-pun yang menjawab tidak perlu. Berdasarkan tanggapan responden akan perlunya job description pula, diperoleh skor rata-rata 3,5 yang dikategorikan sangat baik.

TABEL 2
“Tanggapan responden tentang
penguasaan tugas serta tanggung jawab mereka”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Mengetahui 4 11 44 37
2 Mengetahui 3 16 48 53
3 Kurang Mengetahui 2 3 6 10
4 Tidak Mengetahui 1 - - -
JUMLAH (N) 30 98 100
Skor Rata-Rata 3,3
Sumber data; Hasil Penelitian

Melalui tabel 2 tersebut, terdapat 11 orang (37% dari jumlah responden) yang menjawab sangat mengetahui tugas serta tanggung jawab yang harus dilakukan, dan 16 orang responden (53%) yang menjawab mengetahui tugasnya, 10% dari jumlah responden yang menyatakan bahwa kurang mengetahui tugas serta tanggung jawab yang harus dilakukan, serta tidak ada yang menjawab tidak mengetahui tugas dan tanggung jawab mereka. Sejalan dengan deskripsi penelitian pada tabel 2, diperoleh skor rata-rata 3,3, dimana penguasaan akan tugas yang harus dilakukan dapat dikategorikan baik.

TABEL 3
“Tanggapan responden tentang penerapan job description
dalam menyelesaikan tugas”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Selalu 4 10 40 33
2 Sering 3 12 36 40
3 Kadang-Kadang 2 8 16 27
4 Tidak Pernah 1 - - -
JUMLAH (N) 30 92 100
Skor Rata-Rata 3,1
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari jawaban atas pertanyaan pada angket, diperoleh skor rata-rata 3,1, dimana penerapan uraian pekerjaan di Kantor Camat Batudaa Pantai dikategorikan baik. Dimana pada tabel frekuensi terdapat 10 orang (33% dari jumlah responden) yang menjawab selalu menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya berdasarkan job description/ uraian pekerjaan masing-masing, dan 12 orang responden (40%) yang menjawab sering menerapkannya dalam menyelasaikan tugas, 8 orang responden (27% dari jumlah responden) yang menyatakan bahwa kadang-kadang saja menerapkannya.
Indikator Kedua pada karakteristik organisasi adalah Tehnologi (Perlengkapan dan Fasilitas). Pada proses penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden menunjukkan hasil penelitian sebagai berikut;
TABEL 4
“Tanggapan responden tentang pengaruh perlengkapan serta fasilitas Kantor, terhadap efektivitas kerja”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Mengetahui 4 21 84 70
2 Mengetahui 3 9 27 30
3 Kurang Mengetahui 2 - - -
4 Tidak Mengetahui 1 - - -
JUMLAH (N) 30 111 100
Skor Rata-Rata 3,7
Sumber data; Hasil Penelitian
Dari analisis data pada tabel frekuensi tersebut terdapat 21 orang responden yang menjawab bahwa perlengkapan serta fasilitas Kantor yang memadai dapat mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja mereka, serta 9 orang responden lainnya menjawab bahwa perlengkapan serta fasilitas Kantor yang memadai cukup mempengaruhi ke-efektivitasan kerja para pegawai. Sejalan dengan deskripsi penelitian pada tabel frekuensi, diperoleh skor rata-rata sebesar 3,7, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman aparat akan pengaruh fasilitas dan perlengkapan kantor terhadap efektivitas kerja, dikategorikan sangat baik.


TABEL 5
“Tanggapan responden tentang Fasilitas dan Peralatan Kantor yang telah tersedia di Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Mendukung 4 5 20 17
2 Mendukung 3 6 18 20
3 Kurang Mendukung 2 19 38 63
4 Tidak Mendukung 1 - - -
JUMLAH (N) 30 76 100
Skor Rata-Rata 2,5
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari tabel tersebut, 5 orang responden menjawab perlengkapan dan fasilitas Kantor sudah sangat mendukung serta memberikan rasa nyaman dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka, 6 orang responden menjawab sudah mendukung, serta 19 orang responden lainnya (63% dari jumlah responden) menjawab bahwa perlengkapan serta fasilitas Kantor masih kurang mendukung serta belum memberikan rasa nyaman dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mereka.
Melalui perolehan skor rata-rata, diperoleh skor rata-rata sebesar 2,5. Hal ini mengindikasikan bahwa fasilitas Kantor di Kantor Camat Batudaa Pantai dikategorikan “kurang baik”.





TABEL 6
“Tanggapan responden tentang pemanfaatan fasilitas Kantor guna pemenuhan kebutuhan yang mendukung aktivitas kerja”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Tepat 4 10 40 33
2 Tepat 3 9 27 30
3 Kurang Tepat 2 11 22 37
4 Tidak Tepat 1 - - -
JUMLAH (N) 30 89 100
Skor Rata-Rata 2,9
Sumber data; Hasil Penelitian

Melalui tabel tersebut, 33% dari jumlah responden menjawab bahwa fasilitas serta perlengkapan yang disediakan oleh Kantor telah dimanfaatkan dengan sangat tepat, 9 orang responden lainnya, menjawab bahwa fasilitas yang disediakan telah dimanfaatkan secara tepat, serta 11 orang responden (37% dari jumlah responden) menjawab fasilitas serta perlengkapan kantor dimanfaatkan kurang tepat serta kurang mendukung aktivitas kerja aparat. Melalui skor rata-rata pula, pemanfaatan akan fasilitas kantor di Kantor Camat Batudaa Pantai dapat dikategorikan “cukup baik”, dengan perolehan skor rata-rata sebesar 2,9.



Karakteristik Lingkungan.
Pada faktor kedua ini terdapat dua indikator yang berpengaruh terhadap efektivitas kerja aparat, yakni ekstern lingkungan organisasi serta lingkungan intern/ iklim organisasi.
Indikator Pertama, Ekstern (Pelayanan terhadap Masyarakat). Pada proses penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden menunjukkan hasil penelitian sebagai berikut :
TABEL 7
“Tanggapan responden tentang kualitas serta kuantitas hasil pekerjaan dalam pelayanan terhadap masyarakat?”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Memuaskan 4 9 36 30
2 Memuaskan 3 16 48 53
3 Kurang Memuaskan 2 5 10 17
4 Tidak Memuaskan 1 - - -
JUMLAH (N) 30 94 100
Skor Rata-Rata 3,2
Sumber data; Hasil Penelitian

Melalui tabel tersebut diatas, terdapat 9 orang responden (30% dari jumlah responden) menyatakan bahwa kualitas serta kuantitas hasil pekerjaan dalam pelayanan terhadap masyarakat sudah sangat memuaskan, 16 orang (53% dari responden) menjawab bahwa pelayanan terhadap masyarakat sudah cukup memuaskan, dan 5 orang (17%) yang menyatakan kurang memuaskan. Demikian halnya, dengan skor 3,2, maka pelayanan terhadap masyarakat ini dikategorikan “Baik”.
Indikator Kedua, Intern (Lingkungan Kerja/ Iklim Kerja). Pada proses penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden menunjukkan hasil penelitian sebagai berikut:
TABEL 8
“Tanggapan responden tentang pengaruh lingkungan kerja terhadap efektivitas kerja”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Mempengaruhi 4 18 72 60
2 Mempengaruhi 3 12 36 40
3 Kurang Mempengaruhi 2 - - -
4 Tidak Mempengaruhi 1 - - -
JUMLAH (N) 30 108 100
Skor Rata-Rata 3,6
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari jawaban atas pertanyaan pada angket, melalui tabel tersebut, 18 orang responden menjawab bahwa lingkungan pekerjaan sangat mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat, serta terdapat 12 orang responden yang menjawab bahwa lingkungan kerja cukup mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat.
Sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, pemahaman akan pentingnya lingkungan kerja terhadap efektivitas kerja, dikategorikan “sangat baik” dengan perolehan skor rata-rata sebesar 3,6.




TABEL 9
“Tanggapan responden tentang iklim organisasi di Kantor Camat Batudaa Pantai”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Mendukung 4 5 20 17
2 Mendukung 3 4 12 13
3 Kurang Mendukung 2 21 42 70
4 Tidak Mendukung 1 - - -
JUMLAH (N) 30 74 100
Skor Rata-Rata 2,4
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari jawaban atas pertanyaan pada angket, melalui tabel tersebut, 17% dari jumlah responden menjawab bahwa lingkungan kerja sangat mendukung serta memberikan rasa nyaman dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka, 4 orang responden yang menjawab lingkungan kerja cukup mendukung dalam pelaksanaan tugas, serta terdapat sebanyak 70% dari jumlah responden yang menjawab bahwa lingkungan kerja mereka masih kurang mendukung serta kurang memberikan rasa nyaman dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka.
Iklim organisasi pada Kantor Camat Batudaa Pantai ini, masih dikategorikan “kurang baik”. hal ini dapat dilihat melalui perolehan skor rata-rata sebesar 2,4.


TABEL 10
“Tanggapan responden tentang aparat lain yang suka bergosip atau melakukan aktivitas lain yang tidak termasuk dalam uraian pekerjaannya pada jam kerja”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Mempengaruhi 4 7 28 23
2 Mempengaruhi 3 20 60 67
3 Kurang Mempengaruhi 2 2 4 7
4 Tidak Mempengaruhi 1 1 1 3
JUMLAH (N) 30 93 100
Skor Rata-Rata 3,1
Sumber data; Hasil Penelitian

Melalui tabel tersebut diatas, 7 orang responden menjawab bahwa pegawai lain yang suka bergosip atau melakukan aktivitas lain yang tidak termasuk dalam uraian pekerjaannya pada jam kerja dapat sangat mempengaruhi konsentrasi kerja mereka.
Terdapat pula 67% dari jumlah responden yaitu sebanyak 20 orang responden yang menjawab cukup mempengaruhi konsentrasi kerja mereka, serta 2 orang responden yang menjawab hal tersebut kurang mempengaruhi, serta ada 1 orang responden yang menjawab hal tersebut tidak mempengaruhi konsentrasi kerjanya.
Melalui skor rata-rata, pemahaman aparat akan gangguan yang ditimbulkan oleh aktivitas lain yang tidak termasuk dalam uraian pekerjaan dikategorikan “baik”, dengan skor 3,1.


Karakteristik Pekerja.
Pada faktor ketiga ini, terdapat dua indikator yang mempengaruhi efektivitas kerja aparat di Kantor Camat Batudaa Pantai, yakni produktivitas/ prestasi kerja, serta adanya motivasi dari pimpinan, dan adanya keterikatan pada organisasi melalui disiplin waktu.
Indikator Pertama, Produktivitas / Prestasi Kerja serta adanya Motivasi dari pimpinan). Pada proses penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden menunjukkan hasil penelitian sebagai berikut:
TABEL 11
“Tanggapan responden tentang pengaruh produktivitas kerja
terhadap efektivitas kerja”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Mempengaruhi 4 12 48 40
2 Mempengaruhi 3 18 54 60
3 Kurang Mempengaruhi 2 - - -
4 Tidak Mempengaruhi 1 - - -
JUMLAH (N) 30 102 100
Skor Rata-Rata 3,4

Sumber data; Hasil Penelitian

Dari jawaban atas pertanyaan pada angket, melalui tabel tersebut, terdapat 12 orang ( 40% dari jumlah responden) yang menyatakan bahwa produktivitas kerja aparat akan mempengaruhi tingkat ke-efektifan kerja mereka, dan 18 orang responden (60%) menyatakan bahwa produktivitas kerja cukup mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat, serta tidak ada seorang-pun yang menjawab produktivitas kerja kurang mempengaruhi atau tidak mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat. Demikian halnya dengan deskripsi tabel frekuensi, dapat disimpulkan bahwa pemahaman akan pentingnya produktivitas kerja terhadap efektivitas kerja, dikategorikan “baik” dengan perolehan skor rata-rata sebesar 3,4.
TABEL 12
“Tanggapan responden tentang pemberian penghargaan oleh Camat selaku pimpinan terhadap “Hasil” / produktivitas kerja yang telah dicapai”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Selalu 4 2 8 7
2 Sering 3 3 9 10
3 Kadang-Kadang 2 15 30 50
4 Tidak Pernah 1 10 10 33
JUMLAH (N) 30 57 100
Skor Rata-Rata 1,9
Sumber data; Hasil Penelitian

Melalui skor rata-rata yang diperoleh sebesar 1,9, menunjukkan bahwa masih kurangnya pemberian penghargaan oleh pimpinan kepada aparat, dikategorikan dengan “tidak baik”.
Kemudian pada tabel frekuensi, terdapat 2 orang (7% dari jumlah responden) yang menyatakan bahwa selalu menerima penghargaan terhadap hasil kerja yang telah dicapai, 3 orang responden (10%) menjawab sering menerima penghargaan, 15 orang responden (30% dari jumlah responden) menyatakan kadang-kadang menerima penghargaan dari pimpinan, serta ada 10 orang (33% dari jumlah responden) yang menyatakan bahwa tidak pernah menerima penghargaan dari pimpinannya atas produktivitas kerja yang telah dilaksanakan.

TABEL 13
“Tanggapan responden tentang perlunya motivasi kerja guna peningkatan efektivitas kerja”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Perlu 4 15 60 50
2 Perlu 3 13 39 43
3 Kurang Perlu 2 2 4 7
4 Tidak Perlu 1 - - -
JUMLAH (N) 30 103 100
Skor Rata-Rata 3,5
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari tabel frekuensi, terdapat 15 orang (50% dari jumlah responden) yang menjawab bahwa motivasi itu sangat perlu guna peningkatan ke-efektivitasan kerja aparat, 13 orang responden yang menjawab cukup perlunya motivasi bagi aparat, dan 2 orang responden (7%) yang menjawab bahwa motivasi itu kurang diperlukan bagi peningkatan ke-efektivitasan kerja aparat.
Kemudian, perolehan skor rata-rata sebesar 3,5, menunjukkan pemahaman aparat Kantor Camat Batudaa Pantai akan perlunya motivasi guna peningkatan efektivitas kerja, dikategorikan “Sangat baik”.


TABEL 14
“Tanggapan responden tentang dukungan Camat selaku pimpinan dalam memotivasi para aparat dalam bekerja”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Selalu 4 5 20 17
2 Sering 3 6 18 20
3 Kadang-Kadang 2 16 32 53
4 Tidak Pernah 1 3 3 10
JUMLAH (N) 30 73 100
Skor Rata-Rata 2,4
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari jawaban atas pertanyaan pada angket, melalui tabel tersebut, terdapat 17% dari jumlah responden (5 orang responden) yang menjawab selalu memperoleh dorongan bekerja/ motivasi kerja dari pimpinan sehingga tercapainya tujuan organisasi dengan efektif, efisien dan ekonomis, 6 orang responden menjawab sering mendapat dorongan bekerja, dan 16 orang responden lainnya menjawab kadang-kadang mendapatkan dorongan bekerja, bahkan ada 10% dari jumlah responden (3 orang) menyatakan bahwa tidak pernah memperoleh dorongan bekerja/ motivasi kerja dari pimpinannya.
Sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, skor rata-rata 2,4 yang diperoleh dikategorikan “kurang baik”. Hal ini menunjukkan bahwa masih kurangnya peran aktif pimpinan dalam memberikan motivasi kerja terhadap aparat Kantor Camat Batudaa Pantai.

TABEL 15
“Tanggapan responden tentang kompensasi
dalam bentuk financial (upah/gaji) diberikan”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Sesuai 4 7 28 23
2 Sesuai 3 21 63 70
3 Kurang Sesuai 2 2 4 7
4 Tidak Sesuai 1 - - -
JUMLAH (N) 30 95 100
Skor Rata-Rata 3,2
Sumber data; Hasil Penelitian

Melalui tabel tersebut, terdapat 23% dari jumlah responden (7 orang responden) yang menjawab kompensasi dalam bentuk financial (gaji/upah) yang diterima selama ini sudah sangat sesuai dengan beban kerja / tugas serta tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, 21 orang responden atau sebanyak 70% dari jumlah responden yang menjawab bahwa kompensasi yang diberikan sudah sesuai dengan beban pekerjaannya, dan 2 orang responden yang menjawab bahwa upah yang diberikan masih kurang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan.
Kemudian perolehan skor rata-rata sebesar 3,2, menunjukkan bahwa kompensasi yang diberikan dalam bentuk financial dikategorikan “baik”.
Indikator Kedua adalah Keterikatan pada Organisasi (adanya rasa keterikatan aparat melalui disiplin waktu). Pada proses penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden menunjukkan hasil penelitian sebagai berikut:

TABEL 16
“Tanggapan responden akan pengaruh disiplin waktu terhadap efektivitas kerja”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Mempengaruhi 4 13 52 43
2 Mempengaruhi 3 14 42 47
3 Kurang Mempengaruhi 2 2 4 7
4 Tidak Mempengaruhi 1 1 1 3
JUMLAH (N) 30 99 100
Skor Rata-Rata 3,3
Sumber data; Hasil Penelitian
Dari jawaban pertanyaan atas angket, melalui tabel tersebut terdapat 13 orang (43% dari jumlah responden) yang menjawab disiplin waktu sangat Mempengaruhi tingkat ke-efektivan kerja pegawai, 14 Orang responden (47%) yang menjawab Mempengaruhi, 2 Orang responden (7%) yang menjawab Kurang mempengaruhi, dan 1 orang responden (3%) yang menjawab disiplin waktu tidak mempengaruhi tingkat ke-efektivan kerja pegawai. Sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, skor rata-rata 3,3, menunjukkan bahwa pemahaman responden akan pengaruh disiplin waktu dikategorikan “baik”.

TABEL 17
“Tanggapan responden tentang penerapan disiplin waktu sebagai bentuk ketaatan aparat pada ketentuan jam kerja?”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Selalu 4 2 8 7
2 Sering 3 3 9 10
3 Kadang-Kadang 2 25 50 83
4 Tidak Pernah 1 - - -
JUMLAH (N) 30 67 100
Skor Rata-Rata 2,2
Sumber data; Hasil Penelitian


Dari tabel tersebut, terdapat 2 orang responden (7%) yang menjawab selalu menerapkan disiplin waktu sebagai bentuk ketaatan aparat pada ketentuan jam kerja, 3 orang responden (10%) yang menjawab sering, 25 orang responden (50%) yang menjawab kadang-kadang menerapkan disiplin waktu pada jam kerja dan tidak ada yang menjawab tidak pernah menerapkan disiplin waktu.
Maka sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, diperoleh skor rata-rata 2,2 yang menunjukkan bahwa penerapan disiplin waktu pada jam kerja oleh Aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, dikategorikan “Kurang Baik”.




TABEL 18
“Tanggapan responden tentang disiplin waktu aparat
dalam menyelesaikan suatu pekerjaan”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Selalu 4 5 20 17
2 Sering 3 10 30 33
3 Kadang-Kadang 2 14 28 47
4 Tidak Pernah 1 1 1 3
JUMLAH (N) 30 69 100
Skor Rata-Rata 2,3
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari jawaban atas pertanyaan pada angket, melalui tabel tersebut, terdapat 5 orang responden (17%) yang menjawab selalu menyelesaikan suatu pekerjaan tepat pada waktunya, 10 orang responden (33%) yang menjawab sering tepat waktu, 14 orang responden (47%) yang menjawab kadang-kadang dan 1 orang (3% dari jumlah responden) yang menjawab tidak pernah menyelesaikannya tepat waktu.
Maka sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, diperoleh skor rata-rata 2,3 yang menunjukkan bahwa penerapan disiplin waktu aparat dalam menyelesaikan suatu pekerjaan di Kantor Camat Batudaa Pantai, dikategorikan “Kurang Baik”.




Kebijakan dan Praktek Manajemen.
Pada faktor keempat ini terdapat dua indikator yang mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat yakni pengawasan dan evaluasi.
Indikator Pertama, Pengawasan. Pada proses penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden menunjukkan hasil penelitian sebagai berikut :
TABEL 19
“Tanggapan responden tentang perlunya pengawasan oleh pimpinan
guna peningkatan hasil kerja”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Perlu 4 16 64 53
2 Perlu 3 12 36 40
3 Kurang Perlu 2 2 4 7
4 Tidak Perlu 1 - - -
JUMLAH (N) 30 104 100
Skor Rata-Rata 3,5
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari jawaban atas pertanyaan pada angket, melalui tabel tersebut, terdapat 16 orang (53% dari jumlah responden) yang menjawab bahwa pengawasan oleh pimpinan itu sangat perlu guna peningkatan ke-efektivitasan kerja pegawai, 12 orang responden yang menjawab cukup, dan 2 orang responden (7%) yang menjawab bahwa pengawasan itu kurang diperlukan bagi peningkatan hasil kerja pegawai. Maka sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, diperoleh skor rata-rata 3,5 yang menunjukkan bahwa pemahaman aparat Kantor Camat Batudaa pantai akan perlunya pengawasan oleh pimpinan, dapat dikategorikan “Sangat Baik”.
TABEL 20
“Tanggapan responden tentang penerapan pengawasan oleh pimpinan
sebagai alat dalam pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Selalu 4 13 52 43
2 Sering 3 8 24 27
3 Kadang-Kadang 2 4 8 13
4 Tidak Pernah 1 5 5 17
JUMLAH (N) 30 89 100
Skor Rata-Rata 2,9
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari jawaban atas pertanyaan pada angket, 13 orang (43% dari jumlah responden) yang menjawab bahwa selalu ada pengawasan oleh pimpinan. Terdapat 8 orang responden (27% dari jumlah responden) menyatakan bahwa sering ada pengawasan oleh pimpinan, serta masing-masing 13% dari responden yang menjawab bahwa kadang-kadang memperoleh pengawasan dan sebanyak 5 orang responden, menjawab tidak pernah ada pengawasan oleh pimpinan dalam pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi. Maka sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, diperoleh skor rata-rata 2,9 yang menunjukkan bahwa dalam penerapannya, pengawasan oleh pimpinan Kantor Camat Batudaa pantai dikategorikan “Cukup Baik”.
TABEL 21
“Tanggapan responden tentang perlu-tidaknya terus diawasi oleh pimpinan
guna memperkecil resiko kesalahan dalam pelaksanaan tugas”
NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Perlu 4 12 48 40
2 Perlu 3 9 27 30
3 Kurang Perlu 2 3 6 10
4 Tidak Perlu 1 6 6 20
JUMLAH (N) 30 87 100
Skor Rata-Rata 2,9
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari tabel tersebut, 12 orang responden menjawab guna memperkecil resiko kesalahan pelaksanaan tugas, maka sangat perlu adanya pengawasan oleh pimpinan, 9 orang responden lainnya (30% dari jumlah responden) menyatakan bahwa perlu adanya pengawasan oleh pimpinan terhadap para pegawainya.
Demikian halnya, ada 3 orang (10% dari jumlah responden menyatakan bahwa kurang perlunya pengawasan guna memperkecil resiko kesalahan, serta terdapat 6 orang responden yang menjawab pimpinan tidak perlu terus mengawasi selama proses bekerja.
Maka sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, diperoleh skor rata-rata 2,9 yang menunjukkan bahwa pemahaman aparat Kantor Camat Batudaa pantai akan perlunya pengawasan oleh pimpinan dikategorikan “Baik”.

Indikator Kedua adalah Evaluasi. Pada proses penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden menunjukkan hasil penelitian sebagai berikut :
TABEL 22
“Tanggapan responden tentang perlunya evaluasi kerja
guna peningkatan hasil kerja”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Sangat Perlu 4 16 64 53
2 Perlu
3 14 42 47
3 Kurang Perlu 2 - - -
4 Tidak Perlu 1 - - -
JUMLAH (N) 30 106 100
Skor Rata-Rata 3,6
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari jawaban atas pertanyaan pada angket, terdapat 53% dari jumlah responden (16 orang responden) yang menjawab bahwa evaluasi kerja perlu dilakukan oleh pimpinan guna peningkatan hasil kerja pegawai, serta 14 orang responden menjawab bahwa evaluasi itu perlu dilakukan.
Maka sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, diperoleh skor rata-rata 3,6 yang menunjukkan bahwa pemahaman aparat Kantor Camat Batudaa pantai akan perlunya evaluasi kerja guna peningkatan efektivitas kerja dikategorikan “Sangat Baik”.


TABEL 23
“Tanggapan responden tentang peran serta pimpinan
dalam mengevaluasi hasil pekerjaan, sebagai proses pengukuran
dan pembandingan hasil-hasil pekerjaan yang harus dicapai”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Selalu 4 2 8 7
2 Sering 3 3 9 10
3 Kadang-Kadang 2 18 36 60
4 Tidak Pernah 1 7 7 23
JUMLAH (N) 30 60 100
Skor Rata-Rata 2,0
Sumber data; Hasil Penelitian

Melalui tabel tersebut, terdapat 7% dari jumlah responden (2 orang responden) yang menjawab bahwa dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, pimpinan selalu mengevaluasi hasil pekerjaannya, ada 3 orang responden (10%) yang menjawab sering di evaluasi oleh pimpinan dan 18 orang responden menjawab bahwa pimpinan kadang-kadang mengevaluasi hasil kerjanya, bahkan masih ada 7 orang yang menjawab bahwa pimpinan tidak pernah melakukan pembandingan atas hasil-hasil pekerjaan yang harus dicapai.
Kemudian, sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, diperoleh skor rata-rata 2,0 yang menunjukkan bahwa peran serta Camat selaku pimpinan Kantor Camat Batudaa pantai, dalam memotivasi aparat, sebagai proses pengukuran dan pembandingan hasil-hasil pekerjaan yang telah mereka capai, dikategorikan “Kurang Baik”
TABEL 24
“Tanggapan responden tentang penyelesaian tugas sesuai dengan standar yang harus dicapai setelah dievaluasi oleh pimpinan”

NO JAWABAN RESPONDEN 1 F F.1 F⁄N x 100%
1 Selalu 4 13 52 43
2 Sering 3 5 15 17
3 Kadang-Kadang 2 11 22 37
4 Tidak Pernah 1 1 1 3
JUMLAH (N) 30 90 100
Skor Rata-Rata 3,0
Sumber data; Hasil Penelitian

Dari tabel tersebut, terdapat 13 orang responden (43% dari jumlah responden) menjawab bahwa setelah dievaluasi oleh pimpinan, selalu menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan standar yang harus dicapai.
Terdapat 17% dari jumlah responden, menjawab cukup sering menyelesaikan tugas sesuai dengan standar yang harus dicapai, 11 orang (37% dari responden) menjawab bahwa kadang-kadang saja, serta ada satu orang responden yang menjawab bahwa tidak pernah melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar yang harus dicapai.
Kemudian, sejalan dengan deskripsi tabel frekuensi, diperoleh skor rata-rata 3,0 yang menunjukkan bahwa aparat Kantor Camat Batudaa Pantai dikategorikan “Baik” dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar yang harus dicapai setelah memperoleh evaluasi dari pimpinan.

Pembahasan Hasil Penelitian
TABEL 25
REKAPITULASI SKOR TOTAL RATA-RATA TIAP INDIKATOR
No Faktor dan Indikator Tabel Skor
Rata-rata Kriteria
1 Karakteristik Organisasi
Struktur (Pembagian Tugas / Job Description) 1 3,5 Sangat Baik
2 3,3 Baik
3 3,1 Baik
Skor rata-rata Indikator pertama 3,3 Baik
Tehnologi (Perlengkapan dan Fasilitas) 4 3,7 Sangat Baik
5 2,5 Kurang Baik
6 2,9 Baik
Skor rata-rata Indikator Kedua 3,0 Baik
2 Karakteristik Lingkungan
Lingkungan Ekstern (Masyarakat) 7 3,2 Baik
Lingkungan Intern (Iklim Kerja) 8 3,6 Sangat Baik
9 2,4 Kurang Baik
10 3,1 Baik
Skor rata-rata Indikator Ke-empat 3,0 Baik
3 Karakteristik Pekerja
Produktivitas 11 3,4 Baik
12 1,9 Tidak Baik
Skor rata-rata Indikator Ke-lima 2,7 Baik
Motivasi 13 3,5 Sangat Baik
14 2,4 Kurang Baik
15 3,2 Baik
Skor rata-rata Indikator Ke-enam 3,0 Baik
Adanya rasa keterikatan terhadap Organisasi, melalui penerapan disiplin kerja 16 3,3 Baik
17 2,2 Kurang Baik
18 2,3 Kurang Baik
Skor rata-rata Indikator Ke-tujuh 2,6 Baik

4 Kebijakan dan Praktek Manajemen
Pengawasan 19 3,5 Sangat Baik
20 2,9 Baik
21 2,9 Baik
Skor rata-rata Indikator Ke-delapan 3,1 Baik
Evaluasi 22 3,6 Sangat Baik
23 2,0 Kurang Baik
24 3,0 Baik
Skor rata-rata Indikator Ke-sembilan 2,9 Baik
JUMLAH 76,3
SKOR RATA-RATA (TOTAL) 3,2 Baik

Tabel tersebut diatas merupakan rekapitulasi skor rata-rata setiap indikator berdasarkan deskripsi hasil penelitian sebelumnya, untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi efektivitas kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Melalui tabel rekapitulasi diatas pula, maka efektivitas kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, dapat dikategorikan “Baik” dengan perolehan skor rata-rata total 3,2.
Karakteristik Organisasi
Karakteristik organisasi adalah hubungan yang sifatnya relatif tetap seperti susunan sumber daya manusia yang terdapat dalam organisasi. Karakteristik organisasi terdiri dari struktur dan tehnologi organisasi.
Struktur / Pembagian Tugas (Uraian Pekerjaan)
Struktur merupakan cara yang unik menempatkan manusia dalam rangka menciptakan sebuah organisasi. Dalam struktur, manusia ditempatkan sebagai bagian dari suatu hubungan yang relatif tetap yang akan menentukan pola interaksi dan tingkah laku yang berorientasi pada tugas.
Oleh karenanya pula maka job description/ uraian pekerjaan sangat perlu guna peningkatan efektivitas kerja aparat, berdasarkan pemaparan penulis pada Tabel 1, tentang tugas (Uraian Pekerjaan). Kesadaran akan perlunya job description bagi para pegawai Kantor Camat Batudaa Pantai dikategorikan Sangat Baik, hal ini didukung oleh perolehan skor rata-rata 3,5, sehingga dapat disimpulkan bahwa Pegawai Kantor Camat Batudaa Pantai, memahami akan pentingnya job description guna peningkatkan ke-efektivitasan kerja aparat itu sendiri.
Pada tabel 2, menunjukkan skor 3,3, dengan kategori Baik, maka dapat disimpulkan sebagian besar aparat pada Kantor Camat Batudaa Pantai telah mengetahui tugas dan tanggung jawab mereka.
Kemudian pada penerapannya berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel 3, hanya 10 orang responden saja yang menjawab selalu menerapkan job description dalam menyelasaikan tugas, tentunya hal ini dikategorikan dengan kriteria cukup baik,
Tentunya penguasaan akan uraian pekerjaan, tugas dan tangggung jawab mereka serta penerapannya dalam organisasi yang dikategorikan Sangat Baik dan Baik, maka dapat disimpulkan bahwa uraian pekerjaan cukup mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai.
Tehnologi (Perlengkapan dan Fasilitas)
Tehnologi adalah mekanisme suatu organisasi untuk menunjang kelancaran organisasi dalam menghasilkan output berupa jasa pelayanan terhadap masyarakat.
Berdasarkan pemaparan hasil penelitian pada Tabel 4, menunjukkan 81% dari jumlah responden yang menjawab bahwa perlengkapan serta fasilitas Kantor yang memadai sangat mempengaruhi efektivitas kerja mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran aparat akan pentingnya perlengkapan serta fasilitas Kantor guna menunjang serta memberikan rasa nyaman dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka sangat baik, yang dibuktikan dengan capaian skor rata-rata sebesar 3,7.
Perlengkapan dan fasilitas ini merupakan suatu sarana dan peralatan yang disediakan oleh pimpinan guna mendukung aparat dalam bekerja. Tapi pada fakta yang di peroleh melalui data dan wawancara terungkap bahwa perlengkapan serta fasilitas Kantor masih kurang mendukung serta belum memberikan rasa nyaman dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mereka.
Fasilitas yang kurang lengkap pula, akan mempengaruhi kelancaran aparat dalam bekerja. Semakin baik sarana yang disediakan oleh organisasi, akan mempengaruhi semakin baiknya kerja seseorang dalam mencapai tujuan atau hasil yang diharapkan.
Demikian halnya, apabila fasilitas serta perlengkapan yang disediakan oleh Kantor belum dimanfaatkan secara tepat oleh para aparat, maka akan menghambat pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang diberikan. Pada Tabel 6, 37% dari jumlah responden menjawab fasilitas serta perlengkapan Kantor masih belum dimanfaatkan dengan tepat serta kurang mendukung aktivitas kerja aparat dalam pemenuhan tugas dan tanggung jawab yang diberikan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa besarnya pemahaman akan pentingnya tehnologi dalam suatu organisasi, belum dibarengi dengan pengadaan serta belum tepatnya penggunaan fasilitas serta perlengkapan Kantor di Kantor Camat Batudaa Pantai, dapat memperkecil tingkat ke-efektivitasan kerja aparat.

Karakteristik Lingkungan
Karakteristik lingkungan mencakup dua indikator. Indikator pertama adalah lingkungan ekstern dan indikator yang kedua adalah lingkungan intern dalam organisasi.
Lingkungan Ekstern (Masyarakat)
Lingkungan ekstern, yaitu lingkungan yang berada diluar batas organisasi dan sangat berpengaruh terhadap organisasi, terutama dalam pembuatan keputuasan dan pengambilan tindakan. Dalam hal ini lingkungan ekstern adalah masyarakat.
Pada Tabel 7, menyatakan bahwa kualitas serta kuantitas dalam pelayanan terhadap masyarakat dikategorikan baik. Ini berarti bahwa menurut para aparat, pelayanan terhadap masyarakat telah dilaksanakan semaksimal mungkin.
Tetapi, tidak sejalan dengan hasil wawancara terhadap beberapa warga masyarakat yang membutuhkan pelayanan dari aparat Kantor Camat, ternyata masih banyak keluhan yang muncul dari masyarakat seperti adanya pegawai yang sering datang terlambat, tidak jarang aparat yang melayani warga dengan wajah yang tidak bersahabat, bahkan dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawab mereka sangat lambat, karena melaksanakan tugas dijalani sambil “ngobrol” dengan aparat lainnya.
Tentunya dari hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas kerja aparat pada Kantor Camat Batudaa Pantai, dalam pelayanannya terhadap masyarakat “Belum Efektif”.
Intern (Lingkungan Kerja / Iklim Kerja)
Indikator kedua ialah lingkungan intern organisasi atau iklim kerja organisasi. Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor yang mendukung serta dapat mempengaruhi ke-efektifan kerja aparat.
Pada pemaparan hasil penelitian pada Tabel 8, pemahaman sebagian responden di Kantor Camat Batudaa Pantai, yang menyadari bahwa lingkungan kerja merupakan faktor yang sangat berperan aktif dalam pelaksanaan tugas, dikategorikan sangat baik dengan skor rata-rata 3,6.
Tata ruang, pencahayaan maupun pengaruh suara harus diperhatikan guna terciptanya rasa nyaman bagi para pegawai dalam pencapaian keefektivitasan kerja aparat. Berdasarkan fakta yang diperoleh melalui hasil penelitian pada Tabel 9, diperoleh skor rata-rata 2,4, dengan kategori kurang baik, ini dapat diinterpretasikan bahwa lingkungan kerja mereka (di Kantor Camat Batudaa Pantai) masih belum mendukung serta kurang memberikan rasa nyaman dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, maka hal ini dapat mengakibatkan ke-tidak efektifan kerja aparat.
Selain tata ruang yang kurang memadai, faktor suara seperti aparat lain yang suka bergosip atau melakukan aktivitas lain yang tidak termasuk dalam uraian pekerjaannya pada jam kerja ternyata sangat mempengaruhi konsentrasi kerja mereka.
Namun ada salah seorang responden yang menjawab hal tersebut tidak mempengaruhi konsentrasi kerjanya, padahal semakin tidak mendukungnya lingkungan kerja, maka semakin kecil tingkat ke-efektifan kerja aparat tersebut.
Maka dapat disimpulkan bahwa kesadaran akan pengaruh yang diakibatkan oleh iklim organisasi yang sangat baik, tidak dapat meningkatkan ke-efetivitasan kerja aparat, apabila tidak didukung dengan pemenuhan akan kebutuhan pegawai akan rasa nyaman dalam melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya.

Karakteristik Pekerja
Pada kenyataannya, para pegawai atau pekerja merupakan faktor pengaruh yang paling penting atas tingkat ke-efektivitasan kerja. Dalam hal ini diperlukan adanya rasa Keterkaitan pada organisasi melalui adanya rasa disiplin, serta diperlukannya motivasi dari pimpinan, guna peningkatan produktivitas kerja atau prestasi kerja aparat.
Produktivitas
Berdasarkan pemaparan hasil penelitian pada Tabel 11, skor rata-rata yang diperoleh melalui pengolahan data kuisioner terhadap 30 orang responden sebesar 3,4 dengan kategori baik, maka dapat disimpulkan bahwa aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, memahami akan pentingnya produktivitas kerja aparat terhadap tingkat ke-efektifan kerja mereka.
Berbanding tebalik dengan hasli yang diperoleh pada Tabel 12, dimana skor rata-rata yang diperoleh dikategorikan tidak baik. Hal ini diindikasikan oleh hasil pengolahan data kuisioner oleh para responden yang menyatakan sangat jarang menerima penghargaan dari pimpinannya atas produktivitas kerja yang telah dilaksanakan.
Seorang karyawan mempunyai produktivitas kerja yang tinggi dalam bekerja tentunya akan dapat menghasilkan efektivitas kerja yang baik demikian pula sebaliknya kalau produktifitas kerjanya (pelayanan terhadap masyarakat) buruk maka akan menghasilkan efektifitas kerja yang buruk. Hal ini didukung pula oleh belum adanya peran aktif pimpinan dalam pemberian penghargaan terhadap hasil kerja mereka.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesadaran pimpinan dan aparatur akan pentingnya hasil yang dicapai guna peningkatan ke-efektivitasan kerja aparat pada Kantor Camat Batudaa Pantai masih dikategorikan tidak baik.
Motivasi
Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mau bekerja sama dalam kegiatan organisasi, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya dan upayanya untuk mencapai kepuasan.
Pada Tabel 13, diperoleh skor rata-rata 3,5. Hal ini tentunya mengindikasikan bahwa aparat Kantor Camat Batudaa Pantai sangat menyadari perlunya motivasi dari pimpinan guna peningkatan ke-efektifan kerja aparat.
Sejalan dengan kesadaran aparat akan pentingnya motivasi dalam peningkatan ke-efektifan kerja pegawai, motivasi yang diberikan oleh pimpinan Kantor Camat Batudaa Pantai masih dirasakan belum maksimal. Karena berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel 14, tentang peran aktif pimpinan dalam pemberian motivasi, skor rata-rata yang diperoleh hanya 2,4,
Dengan demikian Camat selaku pimpinan di Kantor Camat Batudaa Pantai harus selalu memberikan dorongan kerja bagi para aparatnya, sehingga dapat tecapainya tujuan organisasi dengan efektif dan efisien serta ekonomis.
Semakin termotivasi pegawai untuk bekerja secara positif, semakin baik pula kinerja yang dihasilkan. Camat selaku pimpinan pada Kantor Camat Batudaa Pantai telah cukup memotivasi bawahannya melalui perhatian pada kebutuhan dan tujuan aparat yang sensitif. Hal ini tentunya dapat memotivasi aparat Kantor Camat Batudaa Pantai agar menghasilkan kinerja yang lebih baik lagi.
Demikian halnya dengan motivasi atau kompensasi yang diberikan oleh pemerintah kepada aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, dalam bentuk financial dirasakan sudah sesuai dengan beban kerja yang diberikan. Hal ini sejalan dengan pemaparan penulis pada Tabel 15, dimana sebagian besar responden yang menjawab bahwa kompensasi dalam bentuk financial (gaji/upah) yang diterima selama ini sudah sesuai dengan beban pekerjaannya.



Disiplin Waktu
Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja, dan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
Hasibuan mengemukakan bahwa Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan/ organisasi dan norma-norma sosial yang berlaku. (Hasibuan, 2010;193)
Dari hasil penelitian yang telah dipaparkan pada Tabel 16, menunjukkan bahwa skor rata-rata yang diperoleh 3,3, dengan kategori baik. Maka Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran responden / aparat pada Kantor Camat Batudaa Pantai terhadap disiplin waktu sangat baik, yang tentunya dapat mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Dimana semakin baik disiplin aparat, maka semakin tinggi pula tingkat ke-efektivan kerja aparat tersebut.
Kemudian pada Tabel 17, menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan suatu pekerjaan belum menyelesaikannya tepat waktu.
Berdasarkan pada penjabaran pada tabel 17 dan 18, dimana skor yang diperoleh dikategorikan kurang baik dengan skor rata-rata 2,2 dan 2,3. Hal ini tentunya sangat disesalkan, karena pada fakta yang ada, semakin lama tugas yang dibebankan itu dikerjakan, maka semakin banyak tugas lain menyusul dan hal ini akan memperkecil tingkat efektivitas kerja, karena memakan waktu yang tidak sedikit.

Kebijakan dan Praktek Manajemen
Karakteristik manajemen adalah strategi dan mekanisme kerja yang dirancang untuk mengkondisikan semua hal didalam organisasi sehingga efektivitas tercapai .
Kebijakan dan praktek manajemen merupakan alat bagi pimpinan untuk mengarahkan setiap kegiatan guna mencapai tujuan organisasi. Dalam melaksanakan kebijakan dan praktek manajemen harus memperhatikan manusia tidak hanya mementingkan strategi dan mekanisme kerja saja. Mekanisme yang dimaksud pada penelitian ini meliputi evaluasi serta pengawasan oleh pimpinan guna pencapaian tujuan organisasi.
Pengawasan
Telah diketahui bahwa salah satu sasaran pokok administrasi dan manajemen dalam menjalankan kegiatan-kegiatan dalam suatu organisasi adalah untuk mencapai efisiensi dan ke-efektivitasan kerja aparat yang semaksimal-maksimalnya.
Berdasarkan pemaparan sebelumnya oleh penulis pada Tabel 19, skor rata-rata yang diperoleh 3,5. Hal ini menandakan bahwa aparat di Kantor Camat Batudaa Pantai sadar akan pentingnya suatu proses pengawasan oleh Camat selaku pimpinannya, untuk menjamin apakah semua pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai sudah sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
Seorang pimpinan layaknya melakukan Inspeksi langsung. Tentunya proses pengawasan langsung ini dapat membantu terlaksananya seluruh kegiatan organisasi. Pengawasan langsung seringkali dilaksanakan apabila pimpinan organisasi melakukan sendiri pengawasan terhadap kegiatan yang sedang dijalankan oleh para bawahan. Dan berdasarkan kuisioner terhadap 30 orang responden,diperoleh hasil bahwa Camat selaku Pimpinan pada Kantor Camat Batudaa Pantai, melaksanakan sendiri pengawasan langsung pada aparat guna pencapaian tujuan organisasi.
Oleh karena itu, pengawasan yang ditujukan guna memperkecil resiko kesalahan ini, dirasakan perlu oleh sebagian besar pegawai, sebagaimana perolehan skor rata-rata, dengan kategori baik pada Tabel 21,
Evaluasi Kerja
Siagian, (2004; 117) berpendapat bahwa evaluasi kerja atau penilaian dapat didefenisikan sebagai proses pengukuran dan pembandingan hasil-hasil pekerjaan yang nyatanya dicapai dengan hasil–hasil yang seharusnya dicapai.
Pada Kantor Camat Batudaa Pantai, aparat telah secara sadar menyatakan bahwa evaluasi kerja oleh pimpinan itu sangat diperlukan, hal ini sejalan dengan pemaparan yang telah dikemukakan oleh peneliti sebelumnya pada Tabel 22.
Hakikat dari penilaian/ evaluasi ini, dimana atasan memberikan dorongan, bantuan, dan informasi kepada bawahan.
Sebaliknya bawahan harus melaksanakan tugas dengan baik dan menyelesaikannya untuk dievaluasi apakah tugas terlaksana dengan baik atau tidak, guna pencapaian keefektivitasan kerja aparat.
Bertimbal balik dengan kesadaran pegawai akan pentingnya evaluasi kerja oleh pimpinan, di Kantor Camat Batudaa Pantai, Camat selaku pimpinan masih kurang melaksanakan evaluasi terhadap aparatnya, sebagai proses pengukuran dan pembandingan hasil-hasil pekerjaan yang seharusnya dicapai.
Hal ini nampak pada Tabel 23, dimana hanya 2 orang responden yang menjawab bahwa dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, pimpinan selalu mengevaluasi hasil pekerjaannya sebagai proses pengukuran dan pembandingan hasil-hasil pekerjaan yang telah mereka capai. 3 orang responden yang menjawab sering di evaluasi oleh pimpinan dan 18 orang responden menjawab kadang-kadang, bahkan masih ada 7 orang yang menjawab bahwa pimpinan tidak pernah melakukan pembandingan atas hasil-hasil pekerjaan yang telah dikerjakan. Tentunya didukung pula oleh perolehan skor rata-rata yang hanya 2,0 dengan kategori kurang baik.
Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan bahwa indikator penelitian ini cukup mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai. Walaupun masih kurangnya evaluasi kerja yang dilakukan oleh pimpinan, sebagian besar pegawai Kantor Camat Batudaa Pantai, selalu menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan padanya sesuai dengan standar yang harus dicapai. Pada Tabel 24, terdapat 13 orang responden menjawab selalu menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan standar yang harus dicapai. 5 responden lainnya, menjawab cukup sering. Namun disayangkan pula, karena masih kurangnya evaluasi yang dilakukan oleh pimpinan, berdampak pada sebagian pegawai Kantor Camat Batudaa Pantai, dimana masih ada 11 orang responden lainnya menjawab kadang-kadang saja menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan standar, bahkan ada satu orang responden yang menjawab bahwa tidak pernah melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar.






BAB V
PENUTUP
Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis kemukakan pada Bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa skor rata-rata yang diperoleh melalui kuisioner yang dibagikan kepada responden terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja berbeda- beda. Hal ini mengindikasikan bahwa masing-masing indikator pada masing-masing faktor memiliki pengaruh yang beragam terhadap efektivitas kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai.
Uraian pekerjaan melalui struktur organisasi sangat mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan pemahaman responden akan perlunya job description guna peningkatan efektivitas kerja dikategorikan “Sangat Baik” dengan skor rata-rata 3,5. Kemudian pada tabel 2, menunjukkan bahwa penguasaaan aparat Kantor Camat Batudaa Pantai terhadap tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan struktur organisasi di kategorikan “Baik” dimana diperoleh skor rata-rata 3,3.
Demikian halnya dengan penerapan job description dalam organisasi, aparat Kantor Camat Batudaa Pantai dapat dikategorikan “Baik” dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya berdasarkan job description masing-masing, hal ini didukung dengan perolehan skor rata-rata 3,1 pada tabel 3.
Sejalan dengan uraian pekerjaan / job description, tehnologi juga merupakan salah satu indikator pada faktor karakteristik organisasi yang dapat mempengaruhi efektivitas kerja aparat di Kantor Camat Batudaa Pantai. Besarnya pemahaman akan pentingnya tehnologi dalam suatu organisasi, namun belum dibarengi dengan pengadaan serta belum tepatnya penggunaan fasilitas serta perlengkapan Kantor di Kantor Camat Batudaa Pantai, dapat memperkecil tingkat ke-efektivitasan kerja pegawai.
Berdasarkan pada deskripsi hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman aparat akan pengaruh fasilitas dan perlengkapan kantor terhadap efektivitas kerja aparat di Kantor Camat Batudaa Pantai, dikategorikan “Sangat Baik” (skor rata-rata 3,7). Kemudian pada tabel6, dapat disimpulkan pemanfaatan fasilitas serta peralatan kantor dikategorikan “Cukup Baik” dengan skor rata-rata 2,9.
Namun pada fakta yang ada, pemahaman akan pentingnya tehnologi belum didukung dengan pengadaan fasilitas itu sendiri. Berdasarkan tabel 5, diperoleh skor rata-rata sebesar 2,5, dimana hal ini mengindikasikan bahwa fasilitas Kantor di Kantor Camat Batudaa Pantai dikategorikan “Kurang Baik”.
Indikator berikut yang mempengaruhi efektivitas kerja adalah Lingkungan ekstern organisasi. Berdasarkan tanggapan responden tentang kualitas serta kuantitas hasil pekerjaan dalam pelayanan terhadap masyarakat dikategorikan “Baik” dengan skor rata-rata sebesar 3,2. Namun dengan masih adanya keluhan masyarakat terhdap pelayanan yang diberikan (berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa masyarakat), maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas kerja aparat pada Kantor Camat Batudaa Pantai, dalam pelayanannya terhadap masyarakat “Belum Efektif”.
Demikian halnya lingkungan intern organisasi. Lingkungan intern organisasi juga masih dikategorikan “Kurang Baik” (tabel9, dengan perolehan skor rata-rata 2,4), dikarenakan terdapat beberapa pegawai yang suka melakukan aktivitas lain, yang bukan termasuk dalam job description. Padahal, pemahaman akan gangguan yang ditimbulkan oleh aktivitas lain yang tidak termasuk dalam uraian pekerjaan dikategorikan “Baik”, dengan skor 3,1.
Lingkungan kerja yang tidak mendukung aktivitas kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, akan memperkecil efektivitas kerja aparat itu sendiri serta tidak jarang akan memperkecil produktivitas kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai. Apabila seorang aparat mempunyai produktivitas kerja yang tinggi dalam bekerja tentunya akan dapat menghasilkan efektivitas kerja yang baik demikian pula sebaliknya kalau produktifitas kerjanya buruk serta sedikit maka akan menghasilkan efektifitas kerja yang buruk.
Berbicara tentang produktivitas serta prestasi kerja aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, berdasarkan pada deskripsi hasil penelitian, pada tabel11, pemahaman akan pentingnya produktivitas kerja terhadap efektivitas kerja, dikategorikan “baik” dengan perolehan skor rata-rata sebesar 3,4.
Namun Camat selaku pimpinan di Kantor Camat Batudaa Pantai, juga diharapkan dapat berperan aktif dalam pemberian penghargaan. Melalui skor rata-rata yang diperoleh sebesar 1,9 pada tabel 12, dikategorikan dengan “tidak baik”. Hal ini menunjukkan bahwa masih kurangnya pemberian penghargaan oleh pimpinan kepada aparat.
Kurangnya peran serta pimpinan dalam pemberian penghargaan atas pencapaian prestasi kerja pegawai, dapat memperkecil efektivitas kerja aparat selaku bawahannya. Penghargaan yang dapat diberikan oleh pimpinan juga dapat berupa motivasi kerja.
Motivasi kerja adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya dan upayanya untuk mencapai kepuasan. Pemahaman aparat Kantor Camat Batudaa Pantai akan perlunya motivasi guna peningkatan efektivitas kerja, dikategorikan “Sangat baik”, dengan skor rata-rata 3,5. Kemudian dukungan pemerintah dalam pemberian motivasi melalui kompensasi financial, dikategorikan “Baik” dengan perolehan skor rata-rata sebesar 3,2.
Namun sejalan dengan pemberian penghargaan, peran aktif pimpinan dalam memberikan motivasi terhadap aparat, selaku bawahan di Kantor Camat Batudaa Pantai dikategorikan “Kurang Baik” dengan skor rata-rata 2,4. Padahal salah satu tujuan dari pemberian motivasi adalah meningkatkan produktivitas kerja serta efektivitas kerja.
Selain pemberian motivasi, guna tercapainya produktivitas serta prestasi kerja, maka perlu adanya rasa keterikatan terhadap organisasi melalui disiplin kerja. Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
Pada tabel 16, diperoleh skor rata-rata 3,3, yang menunjukkan bahwa pemahaman responden akan konsep disiplin waktu dikategorikan “Baik”. Namun bertolak dari pemahaman akan pentingnya disiplin kerja, aparat Kantor Camat Batudaa Pantai dalam penerapannya, sejalan dengan deskripsi tabel 17, diperoleh skor rata-rata 2,2 yang menunjukkan bahwa penerapan disiplin waktu pada jam kerja oleh Aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, dikategorikan “Kurang Baik”. demikan halnya, pada tabel 18, diperoleh skor rata-rata 2,3 yang menunjukkan bahwa penerapan disiplin waktu aparat dalam menyelesaikan suatu pekerjaan di Kantor Camat Batudaa Pantai, dikategorikan “Kurang Baik”.
Faktor terakhir yang mempengaruhi efektivitas kerja adalah Karakteristik manajemen dan praktek manajemen. Pada faktor keempat ini terdapat dua indikator yang mempengaruhi tingkat ke-efektivitasan kerja aparat yakni pengawasan dan evaluasi.
Pengawasan merupakan proses pengamatan yang dilakukan oleh pimpinan dalam mengamati pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Pemahaman akan konsep, serta peran serta pimpinan dalam pengawasan yang dilakukan di Kantor Camat Batudaa Pantai, berdasarkan pada rekapitulasi perolehan skor rata-rata, dapat dikategorikan “Baik”, dengan skor 3,1.
Diharapkan dengan adanya pengawasan ini, maka kinerja aparat dapat terus terpantau dan hal ini dapat memperkecil resiko kesalahan dalam pelaksanaan tugas dan tentunya dapat meningkatkan keefektivitasan kerja aparat.
Tentunya pengawasan ini perlu dibarengi dengan adanya evaluasi hasil kerja, karena seperti yang telah di jabarkan oleh penulis sebelumnya bahwa kebijakan dan praktek manajemen merupakan alat bagi pimpinan untuk mengarahkan setiap kegiatan guna mencapai tujuan organisasi.
Peranan Camat selaku pimpinan di Kantor Camat Batudaa Pantai, dalam mengevaluasi pekerjaan aparat dikategorikan “Kurang Baik” dimana pada deskripsi tabel 23, diperoleh skor rata-rata 2,0 Kemudian, berdasarkan deskripsi tabel 24, setelah memperoleh evaluasi kerja, sebagian besar aparat menjawab akan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh organisasi dengan perolehan skor rata-rata 3,0, dengan kategori “Baik”
Melalui keseluruhan indikator yang telah dikemukakan oleh penulis, keseluruhan indikator tersebut merupakan faktor-faktor yang sangat mempengaruhi ke-efektivitasan kerja aparat di Kantor Camat Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.
Saran
Melalui perolehan skor rata-rata, diperoleh skor rata-rata sebesar 2,5 pada tabel 5. Hal ini mengindikasikan bahwa fasilitas Kantor di Kantor Camat Batudaa Pantai dikategorikan “Kurang Baik”. Maka diharapkan adanya kerja sama yang baik antara pimpinan dan bawahan dalam pemberian fasilitas dan peralatan sehingga dapat digunakan dengan sebaik-baiknya guna mendukung kelancaran kegiatan organisasi.
Berdasarkan pada hasil wawancara terhadap beberapa masyarakat, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa aparat Kantor Camat Batudaa Pantai belum efektif dalam pemberian pelayanan terhadap masyarakat. Maka diharapkan agar pegawai pada Kantor Camat Batudaa Pantai dapat melaksanakan tugas-tugas serta tanggung jawab dengan penuh kesungguhan dan rasa tangggung jawab.
Lingkungan intern organisasi dirasakan masih kurang memberikan rasa nyaman dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab aparat. Iklim organisasi pada Kantor Camat Batudaa Pantai ini, masih dikategorikan “Kurang Baik”. Hal ini dapat dilihat melalui perolehan skor rata-rata sebesar 2,4. Maka diharapkan adanya kerja sama antara pimpinan serta bawahan, bawahan dengan bawahan serta bawahan dan masyarakat agar sama-sama dapat menjaga lingkungan kerja guna terciptanya suasana yang nyaman dan harmonis saat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Pada tabel 17 dan 18, tentang penerapan disiplin waktu aparat pada ketentuan jam kerja, serta disiplin waktu aparat dalam menyelesaikan pekerjaannya, dikategorikan “Kurang Baik”. Maka diharapkan agar aparat Kantor Camat Batudaa Pantai, dapat menerapkan disiplin waktu sebagai ketentuan jam kerja, serta menerapkannya pula dalam menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya.
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan, pada indikator pemberian penghargaan atas pencapaian prestasi kerja, pemberian motivasi, dan serta evaluasi kerja, terindikasi bahwa peran serta Camat selaku pimpinan di Kantor Camat Batudaa Pantai, dikategorikan “Kurang Baik”. Maka diharapkan Camat selaku Pimpinan pada Kantor Camat Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo hendaknya mampu memberdayakan bawahannya dengan memberikan penghargaan-penghargaan serta pengarahan-pengarahan dalam pelaksanaan tugas. Agar setiap waktu, tenaga, serta hasil yang akan dicapai dalam sebuah organisasi dapat berjalan secara efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Etzoni, 1997. Organisasi-Organisasi Modern, Jakarta.
Gibson Ivancervich dan Donelly, 1998. Organization Terjemahan, Dharmo Agus Jakarta.
Gibson, James L., Invancevich, John M., Donnelly, Jame H. Jr. 1984. Organisasi, alih bahasa Ir. Nunuk Ardiani, MM. Bumi Aksara, Jakarta.
Handayani Soewarno, 1986. Pengantar Ilmu Administrasi dan Manajemen, Jakarta.
Handoko Martin, 1997 MOTIVASI, Daya Penggerak Tingkah Laku, Jakarta; Kanisius.
Hasibuan Malayu, 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Hasibuan Malayu, 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia (Edisi Revisi).Jakarta: Bumi Aksara.
Kartono, Kartini, 1991. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta ; P.T. Raja Grafindo Persada.
Manulang Marihut, 1989 Pengantar Manajemen Keuangan. Andi; Indonesia
Mustafa A, 2007. Azas-Azas Manajemen Kolektor (Modul Bagian 2). Gorontalo.
Natawijaya, 2003.Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta.
Rury. Efektifitas.pdf Ubahan Modul 1.doc 16 Maret 2009 (14:02:12).
Siagian S.P, 2004. Filsafat Administrasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Soekanto Soerjono, 2001. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta: Raja Gravindo Persada.
Steers Richard, 1985 Efektivitas Organisasi. Erlangga
Sugiono, 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung; Alfabeta.
Sugiono, 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung.: Alfabeta.
The Liang Gie dkk, 1986. Ensiklopedia Admnistrasi. Jakarta: Gunung Agung.
UU.No.12 tahun 2008, Tentang Pemerintahan Daerah.
Wirawan, 2002. Teori Kepemimpinan. (cetakan pertama) Jakarta; Uhamka Press.
Whadjosumidjo, 1994. Dasar-Dasar Kepemimpinan, Jakarta.
www.google.com. Efektivitas Kerja, Jumat, 10 Desember 2010, Gorontalo Internet Center

1 komentar: